12/07/2016

Perencanaan Penilaian Manajemen Krisis dalam Public Relations

Perencanaan Penilaian Krisis dalam Public Relations Menurut Para Ahli - Public Relatios (PR) adalah sebagai jembatan antara perusahaan atau organisasi dengan publiknya, terutama tercapainya mutual understanding (saling pengertian) antara perusahaan dengan publiknya “ (Ardianto,2004: 3). Pengertian lain dari PR adalah fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan baik dan bermanfaat antar organisasi dengan publik yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut. Jadi, PR itu merupakan kedudukan dalam suatu perusahaan atau organisasi sebagai penghubung antar perusahaan atau organisasi dengan publiknya (Cutlip, 2000: 6)

Frank Jefkins memberikan definisi: “Public relations consist of all forms of planned communication, outwards and inwards, between an organization and its public for the purpose of achieving specific objectives concerning mutual understanding”. Public Relations is “a system of communication to create a goodwill”.

Selanjutnya Edward L. Bernays mengatakan :“Public relations has three meanings : (1) information  given to the public ; (2) Persuasion directed to the public to modify attitudes and actions of an institution ; (3)efforts to integrate  attitudes and actions of an institution  (public relations mepunyai tiga arti, yaitu (1) penerangan kepada masyarakat (2) persuasi untuk mengubah sikap dan tingkah laku masyarakat (3) usaha untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan dengan sikap perbuatan masyarakat dan sebaliknya.

Perencanaan Penilaian Manajemen Krisis dalam Public Relations_
image source: hkstrategies.ca
baca juga: Pengertian Krisis, Manajemen Krisis, dan Faktor Penyebab Krisis

Dari definisi yang dikemukakan para ahli di atas, dapat dilihat bahwa walaupun berbeda-beda ada beberapa kesamaan pokok pikiran, yakni :
  1. Public relations merupakan suatu kegiatan yang bertujuan memperoleh goodwill, kepercayaan, saling pengertian, dan citra yang baik dari publik, masyarakat.
  2. Sasaran  public relations adalah menciptakan opini publik yang  favourable, menguntungkan semua pihak.
  3. Public relations merupakan unsur yang sangat penting dalam manajmen guna mencapai tujuan yang spesifik dari orgasnisasi/perusahaan.
  4. Public relations adalah suatu usaha untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara suatu badan/organisasi dengan masyarakat melalui suatu proses komunikasi timbal balik atau dua arah. Hubungan yang harmonis ini timbul dari adanya mutual understanding, mutual confidence, dan image yang baik.

Menurut H. Fayol beberapa peranan public relations adalah sebagai berikut :

Membangun identitas dan citra perusahaaan (building corporate identity and image)
  1. Menciptakan identitas dan citra perusahaan yang positif.
  2. Mendukung kegiatan komunikasi timbale balik dua arah dengan berbagai pihak.

Menghadapi krisis (facing of crisis)

Menangani keluhan dan menghadapi krisis yang terjadi dengan membentuk manajemen krisis dan public relations recovery of imange yang bertugas memperbaiki lost of image and damage.

Mempromosikan aspek kemasyarakatan (promotion public causes)
  1. Mempromosikan hal-hal yang menyangkut kepentingan publik.
  2. Mendukung kegiatan kampanye social seperti anti merokok dan menghindari obat-obatan terlarang

Dalam krisis public relations media adalah  faktor penting yang dapat mentransformasi krisis internal menjadi krisis public relations. Strategi Public Relations dalam merespon krisis perusahaan harus mempersiapkan dengan matang cara mencegah terjadinya krisis. Perusahaan sebaiknya selalu rencana dalam menghadapi krisis dan menghindari keputusan yang  justru akan mebuat perusahaan terperosok lebih jauh dalam krisis. Mereka harus tahu scenario terburuk yang akan terjadi dan harus mempunyai contingency plan dalam menghadapinya.

Enam langkah  yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis sebagai berikut :
  1. Melakukan penilaian yang objektif terhadap penyebab krisis.
  2. Menentukan apakah penyebab terjadinya krisis memiliki dampak jangka panjang atau hanyalah fenomena sesaat.
  3. Perhitungkan setiap kejadian dalam krisis dengan cermat sehingga setiap peristiwa yang terjadi dapat diantisipasi dengan baik.
  4. Memusatkan perhatian pada upaya menyelesaikan masalah.
  5. Mamfaatkan setiap peluang yang ada untuk memperbaiki keadaan.
  6. Segera bertindak untuk melindungi cash flow perusahaan.

Beberapa strategi yang harus diperhatikan public relations dalam merespon krisis yaitu adalah :
  1. Perencanaan pra-krisis
  2. Upaya penanggulangan krisis
  3. Penyelesaian krisis

Krisis tidak bisa menjadi pilihan yang dapat ditolak oleh organisasi. Krisis hidup dan terus berkembang seiring dengan lajunya organisasi dan lajunya komunikasi organisasi tersebut. Ketika krisis muncul maka peluangnya adalah memanage  krisis tersebut menjadi lebih terkendali. Public relations semestinya hadir sebagai bagian dalam organisasi yang menjembatani antara organisasi dengan publiknya.

Pedoman umum berikut yang dapat membantu public relations atau tim manajemen krisis pada saat krisis, yaitu :
  1. Mempersiapkan  contingency plan (anggota tim krisis managemen dapat dibentuk dalam waktu singkat, selalu adakan pelatihan untuk menghadapi berbagai macam krisis).
  2. Segera umumkan official spokesperson (anggota tim krisis) yang berhak bicara dan memberikan keterangan mengenai krisis ke public dan media.
  3. Bergerak cepat (jam pertama ketika krisis terjadi sangat crusial narena media sering memberikan informasi berdasarkan kejadian awal)
  4. Gunakan konsultan manajemen krisis (saran dari konsultan public relations sangat penting.
  5. Memberikan informasi yang akurat dan benar (mencoba untuk memanipulasi informasi akan berbalik menjadi bahaya jika kebenaran ditemukan).
  6. Ketika memutuskan bertindak, jangan hanya mempertimbangkan kerugian jangka pendek, tetapi pikirkan juga efek jangka panjang.

Public Relations dan Penanganan Krisis Kepercayaan Serta Turunnya Citra Perusahaan

Kepercayaan dan citra yang baik di mata masyarakat merupakan salah satu yang terpenting bagi eksistensi sebuah perusahaan. “ Pada era persaingan sekarang ini, bukan publik yang membutuhkan perusahaan, tetapi perusahaan yang butuh publik “ (Ardianto, 2004: 3). Apabila kepercayaan dan citra perusahaan rusak di mata masyarakat, maka perusahaan tersebut harus bersiap-siap untuk menghadapi krisis. Suatu perusahaan yang mengalami permasalahan sudah dianggap selesai secara hukum, justru akan berdampak negative dan akan terus berkepanjangan, serta tingkat kepercayaan atau citra masyarakat menjadi turun secara tajam.

Sebuah survei yang diadakan oleh American Advertising Federation (AFF) tentang 1.800 eksekutif bisnis. Para eksekutif diberi pertanyaan departemen mana yang paling penting bagi keberhasilan perusahaan mereka. Hasil tersebut menunjukkan bahwa PR menduduki tingkat tiga teratas setelah pengembangan produk dan perencanaan strategis, kemudian disusul oleh periklanan, penelitian dan pengembangan (Litbang), dan hukum. Hal ini dapat dilihat dari tabel :
Nama Departemen Presentase
Pengembangan produk 29 persen
Perencanaan strategis 27 persen
Public relations 16 persen
Periklanan 10 persen
Penelitian dan pengembangan (Litbang) 4 persen
Strategi keuangan 4 persen
Hukum 3 persen
Tabel 1
Sumber : buku Hubungan Media Konsep dan Aplikasi, 2008

Tabel di atas menguatkan bahwa PR menjadi kegiatan yang sangat penting saat ini. Dalam konsep marketing kuno dikenalkan dengan 4P (product, price, place, dan promotion), tetapi dewasa ini 4P sudah banyak ditinggalkan orang, tetapi saat ini diperkenalkan dengan 6P. Dua yang lain adalah power dan public relatios (Nurudin, 2008:5).

Citra merupakan hal yang terpenting dari suatu perusahaan. Citra ini dengan sengaja diciptakan agar memberikan nilai positif. Nilai positif sangat diperlukan bagi sebuah perusahaan untuk mendapatkan kepercayaan dari publik agar eksistesnsi dari perusahaan dapat terus berlanjut. Saat terjadi krisis kepercayaan dan menurunnya citra perusahaan, peran PR sangat dibutuhkan oleh perusahaan. Untuk lebih jelas mengetahui peran PR dalam menangani krisis kepercayaan dan menurunnya citra perusahaan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :

Persyaratan Menjadi Public Relations (PR)

Terdapat persyaratan mendasar yang harus dimiliki seseorang yang ingin menjalankan fungsi PR, diantaranya yaitu :
  1. Ability to communicate (kemampuan berkomunikasi): Kemampuan berkomunikasi bagi seorang PR dalam bentuk lisan dan tulisan, yakni seorang PR harus mampu berbicara di depan umum, seperti dapat melakukan presentasi, mampu mewawancarai dalam upaya pengumpulan fakta dan data, dan dapat diwawancarai oleh pers atau wartawan sebagai sumber berita. Dalam komunikasi tulisan harus mampu membuat Press Release, menulis laporan, membuat naskah pidato untuk manajemen, menulis konsep iklan layanan masyarakat, menulis brosur atau selebaran, dan bentuk komunikasi tulisan lainnya.
  2. Ability to organize (kemampuan manajerial atau kepemimpinan): Kemampuan manajerial atau kepemimpinan seorang PR dapat diartikan sebagai kemampuan mengantisipasi masalah dalam dan luar perusahaan, termasuk kemampuan untuk menyusun rencana kegiatan dan melaksanakannya.
  3. Ability to get on with people (kemampuan bergaul atau membina relasi): Kemampuan bergaul atau membina relasi artinya harus mampu berhubungan dengan dan bekerjasama dengan berbagai macam orang, dan mampu menjaga komunikasi yang baik dengan orang-orang yang berbeda atau sama tingkatannya.
  4. Personality Integrity (memiliki kepribadian yang utuh atau jujur): Kepribadian yang utuh atau jujur, artinya seorang PR harus memiliki kredibilitas yang tinggi, yakni dapat diandalkan dan dipercaya oleh orang lain, dan dapat diterima sebagai orang yang memiliki kepribadian utuh atau jujur.
  5. Imagination (banyak ide dan kreatif): Memiliki imajinasi (banyak ide dan kreatif) dalam pengertian seorang PR harus memiliki wawasan yang luas, mengetahui benang merah persoalan serumit apapun.

Tujuan Universal Public Relatios

Public Relations memiliki tujuan yang universal diantaranya, yaitu :
  1. Menciptakan public understanding (pengertian publik). Pengertian belum berarti persetujuan/penerimaan, dan persetujuan belum berarti penerimaan. Di sini public memahami organisasi/perusahaan tersebut dalam masalah produk/jasa, aktivitas-aktivitas, reputasi, perilaku manajemen, dsb.
  2. Menciptakan public Confidence (adanya kepercayaan publik terhadap perusahaan).
  3. Menciptakan public Support (adanya unsur dukungan dari publik terhadap perusahaan) baik itu dalam bentuk material maupun spiritual.
  4. Menciptakan public Coorperation (adanya kerjasama dari publik terhadap perusahaan).

Fungsi dan Kegiatan Utama Public Relations

Fungsi dari PR adalah sebagai berikut :
  1. Mengetahui secara pasti dan mengevaluasi pendapat umum yang berkaitan dengan perusahaannya.
  2. Menasehati para eksekutif mengenai cara-cara menangani pendapat umum yang timbul.
  3. Menggunakan komunikasi untuk mempengaruhi pendapat umum

Kegiatan utama dari PR adalah sebagai berikut :
  1. Menjalankan program terencana dan berkesinambungan sebagai bagian dari manajemen organisasi
  2. Berurusan dengan hubungan antara organisasi dengan publiknya
  3. Memantau pengetahuan, pendapat, sikap dan prilaku didalam dan diluar organisasi.
  4. Menganalisis pengaruh kebijakan, prosedur dan tindakan pada publik.
  5. Menyesuaikan kebijakan, aturan dan tindakan yang dipandang menimbulkan konflik dengan kepentingan publik dan keberadaan perusahaan
  6. Memberikan saran dan masukan kepada manajemen dalam pembuatan kebijakan, aturan dan tindakan yang dipandang menimbulkan konflik dengan kepentingan publik dan keberadaan perusahaan.
  7. Membangun dan memelihara hubungan komunikasi dua arah antara organisasi dengan publiknya
  8. Menghasilkan perubahan yang khusus dalam pengetahuan, pendapat, sikap dan perilaku didalam dan diluar organisasi.
  9. Menciptakan hubungan baru dan atau memelihara hubungan antara organisasi dan publiknya.

Metode Public Relations dalam Menangani Krisis Kepercayaan dan Menurunnya Citra Perusahaan

Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang berhasil mencapai cita-cita dan tujuannya secara maksimal. Begitu pula dengan kerja praktisi PR yang bertugas menangani krisis kepercayaan dan mengembalikan citra positif perusahaan dimana praktisi PR ini bernaung. Untuk kelancaran jalannya proses pencapaian tujuan tersebut dilakukan cara-cara penyelenggaraan kerja yang seefisien mungkin dengan mengingat faktor tujuan, biaya, fasilitas, waktu, dan tenaga. Dengan kata lain bahwa PR memerlukan metode kerja yang menjadi syarat mutlak untuk mencapai tujuan.

Sekian artikel tentang Perencanaan Penilaian Krisis dalam Public Relations Menurut Para Ahli.  Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
  1. John Doorley, Helio Fred Garcia, Reputation Management: The Key to Successful Public Relations and Corporate Communication, Routledge, 2007.
  2. Jerry A Hendrix, Public Relations Cases, Wadsworth, 2001.
  3. Kim Harrison, Strategic Public Relations: A Practical Guide to Succes, second edition, Vineyard Publishing, 2001.
  4. Sandra M Oliver, Handbook of Corporate Communication and Public Relations: Pure and Applied, Routledge, 2004.
  5. Joep Cornelissen, Corporate Communications: Theory and practice, Sage, 2005.
  6. Gary Davies, Rosa Chun, Rui Vinhas Dasilva, Stuart Roper, Corporate reputation and competitiveness, Routledge, 2003.

Pengertian Krisis, Manajemen Krisis, dan Faktor Penyebab Krisis

Pengertian Krisis, Manajemen Krisis, dan Faktor Penyebab Krisis - Kata krisis berasal dari bahasa Yunani krisis, yang berarti “keputusan”. Ketika krisis terjadi, perusahaan harus memutuskan apa yang harus dilakukan. Bergerak ke kiri, atau bergeser ke kanan, ke bawah atau ke atas, bertarung atau  melarikan diri

Dalam bahasa China, krisis diucapkan dengan wei-ji dan mempunyai dua arti yaitu “bahaya” dan “peluang” . two side in the same coin.

Dalam kamus Webster, krisis didefinisikan sebagai “suatu titik balik untuk menuju keadaan lebih baik atau lebih buruk”. Jadi dari suatu situasi ini, perusahaan dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk. Contoh perusahaan yang menjadi lebih baik setelah krisis adalah Johnson & Johnson yang berhasil mengatasi kasus racun sianida dalam Tylenol, salah satu produk obat sakit kepala unggulannya sehingga reputasi perusahaannya justru terangkat.

Steven Fink dalam “Crisis Management Planning for the Invetable” mendefinisikan krisis sebagai berikut:
A crisis is unstable time or state of affairs in which a decisive change is impending-either one with the distinct possibility of a highly desirable and extremely positive outcome, or one with the distinct possibility of a highly undesirable outcome. It is usually a 50-50 proportion but you can improve the odds.
Krisis adalah waktu yang tidak stabil atau keadaan di mana perubahan yang menentukan adalah yang akan datang-salah satu dengan kemungkinan yang berbeda dari hasil yang sangat diinginkan dan sangat positif, atau satu dengan kemungkinan yang berbeda dari hasil yang sangat tidak diinginkan. Biasanya 50 berbanding 50  tetapi Anda dapat meningkatkan peluang
Krisis pada dasarnya adalah sebuah situasi yang tak terduga, artinya organisasi umumnya tidak dapat menduga bahwa akan muncul situasi yang dapat mengancam keberadaannya. Sebagai ancaman, ia harus ditangani secara cepat agar organisasi dapat berjalan normal kembali. Untuk itu, Holsti melihat krisis sebagai “situasi yang dikarakterisasikan oleh kejutan, ancaman besar terhadap nilai-nilai penting, serta waktu memutuskan yang sangat singkat”. Krisis membawa keterkejutan dan sekaligus mengancam nilai-nilai penting organisasi serta hanya ada waktu yang singkat untuk mengambil keputusan.

Shrivastava & Mitroff mendefinisikan krisis perusahaan sebagai “peristiwa yang mengancam tujuan terpenting untuk bertahan dan mendapatkan keuntungan”. Krisis, menurut mereka diasosiasikan dengan kerusakan yang berskala luas terhadap kehidupan manusia, lingkungan alam dan institusi sosial dan politik.

Pauchant & Mitroff mengatakan bahwa krisis merupakan “sebuah gangguan yang secara fisik memberikan dampak pada suatu sistem sebagai suatu kesatuan serta mengancam asumsi dasarnya, kesadaran subjektif akan dirinya serta pusat keberadaannya”. Menurut mereka, krisis biasanya memiliki tiga dampak, yaitu ancaman terhadap legitimasi organisasi, adanya perlawanan terhadap misi organisasi serta terganggunya cara orang melihat dan menilai organisasi.

C.G. Linke melihat krisis sebagai ketidaknormalan dari konsekuensi negatif yang meng-ganggu operasi sehari-hari sebuah organisasi. Menurutnya, sebuah krisis akan berakibat pada adanya kematian, menurunnya kualitas kehidupan dan menurunnya reputasi perusahaan.

Bagi Laurence Barton, sebuah krisis adalah peristiwa besar yang tak terduga yang secara potensial berdampak negatif terhadap baik perusahaan maupun publik. Peristiwa ini mungkin secara cukup berarti merusak organisasi, karyawan, produk dan jasa yang dihasilkan organisasi, kondisi keuangan dan reputasi perusahaan.

Michael Regester & Judy Larkin  mendefinisikan krisis sebagai sebagai sebuah peristiwa yang menyebabkan perusahaan menjadi subjek perhatian luas (cenderung tidak menyenangkan) dari media nasional dan internasional serta kelompok-kelompok seperti pelanggan, pemegang saham, karyawan & keluarga mereka, para politisi, serikat perdagangan serta kelompok-kelompok penekan yang, dengan suatu alasan atau lebih, memiliki kepentingan yang dibenarkan terhadap kegiatan-kegiatan organisasi.

Pengertian Krisis, Manajemen Krisis, dan Faktor Penyebab Krisis_
image source: getfoundquick.com
baca juga: Pengertian Reputasi dalam Public Relations dan Organisasi

Apakah sebuah krisis akan menjadikan organisasi menjadi lebih baik atau lebih buruk sangat tergantung pada bagaimana pihak manajemen mempersepsi dan kemudian merespon situasi tersebut atau sangat tergantung pada pandangan, sikap dan tindakan yang diambil terhadap krisis tersebut. Sebuah krisis mungkin dapat ditangani dengan segera dengan melibatkan sedikit orang, tetapi krisis lain mungkin harus ditangani dengan mengerahkan sebagian besar sumber daya yang dimiliki organisasi

Krisis tidak pandang bulu dan bisa menimpa siapa saja. Seperti kata Barton: “Krisis menyerang korporasi, organisasi non profit, badan-badan pemerintahan, servis, perusahaan hingga keluarga”. Setiap organisasi sangat punya peluang untuk mengalami krisis.

Pinsdorf menambahkan bahwa “tidak ada satu perusahaan pun yang kebal terhadap krisis, tetapi dengan riset, perencanaan dan pelatihan yang penuh kewaspadaan, biasanya krisis dapat dikelola dan dikurangi dampaknya.”

Jadi, krisis adalah suatu keadaan yang tidak stabil dimana bahaya dan peluang bisa datang dengan peristiwa besar (ancaman) yang tak terduga yang secara potensial berdampak negatif terhadap baik perusahaan maupun publik yang menyebabkan perusahaan menjadi subjek perhatian luas (cenderung tidak menyenangkan) dari media nasional dan internasional.

Institute of Crisis Management mendefinisikan krisis sebagai berikut.
Krisis juga dianggap sebagai “turning point in history line” yaitu suatu titik balik dalam kehidupan yang dampaknya memberikan pengaruh signifikan, kearah negatif maupun positif, tergantung reaksi yang diperlihatkan oleh individu, kelompok masyarakat, atau suatu bangsa.

Jika dipandang dari kacamata bisnis suatu krisis akan menimbulkan hal-hal berikut:
  1. Intensitas permasalahan akan bertambah
  2. Masalah akan menjadi sorotan publik baik melalui media masa, atau informasi dari mulut ke mulut.
  3. Masalah akan mengganggu kelancaran bisnis sehari-hari
  4. Masalah mengganggu nama baik perusahaan
  5. Masalah dapat merusak sistem kerja dan mengguncang perusahaan secara keseluruhan
  6. Masalah yang dihadapi selain membuat perusahaan menjadi panik, tidak jarang juga membuat masyarakat menjadi panik
  7. Masalah akan membuat pemerintah ikut melakukan intervensi.

Tabel berikut adalah ciri-ciri perusahaan yang berada dalam krisis:

Keadaan Fisik Tidak terurus, lampu redup, toilet kotor, seragam petugas lama tak berganti, mobil tua, pabrik bekerja dibawah titik optimal.
SDM Malas, datang dan pulang seenaknya, pemimpin jarang hadir, banyak terlihat tidak bekerja dan kongko-kongko. Tenaga yang bagus-bagus sudah keluar.
Produk Andalan Hampir tidak ada. Hanya menyelesaikan yang sudah ada saja. Banyak retur dan defect.
Konflik Hampir setiap hari terdengar, Perasaan resah dimana-mana.
Energi Hampir tidak ada.
Demo Karyawan Tinggi, rasa takut terkena PHK.
Proses Hukum Meningkat dan datang dari mana-mana.
Bagian Keuangan Hidup dalam suasana stres. Dikejar tagihan-tagihan yang tak terbayar dan oleh debt collector.
Sumber : Rhenald Kasali, Change. Gramedia, 2005, hal 89.

Manajemen Krisis

Manajemen krisis dapat dimanfaatkan di semua bidang tetapi umumnya digunakan dalam hubungan internasiona, politik, bisnis, dan manajemen. Banyak perusahaan kini sudah memiliki manual crisis plan atau petunjuk menghadapi krisis. Hal ini penting untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan terjadinya krisis, seperti kebakaran, bencana alam ancaman bom, kekerasan, dan kemungkinan jatuhnya korban akibat kesalahan produk.

Teori manajemen krisis umumnya didasarkan atas bagaimana menghadapi krisis (crisis bergaining and negotiating), membuat keputusan disaat krisis (crisis decition making), dna memantau perkembangan krisis (crisis dynamics). Dalam situasi krisis, usahakan tetap tenang dan pertimbangkan dengan matang keputusan yang akan diambil karena akan menjadi taruhan reputasi Public Relations.

Tiga jenis krisis yang terdapat dalam bisnis adalah sebagai berikut.
  • Krisis keuangan adalah krisis yang terjadi karena perusahaan mempunyai masalah cash flow atau likuiditas jangka pendek dan kemungkinan pailit di masa datang. Krisis keuangan yang terjadi di amerika sepanjang 208 membuat banyak perusahaan bangkrut. Sebut saja Lehman Brothers, AIG, Fanni Mae, Freddy Mac, dan lain-lain.
Tabel berikut memperlihatkan kronologis krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat:

Tanggal Kejadian
16 Maret Bank investasi Bear Searn dijual murah hanya pada harga US$ 236juta kepada JP Morgan Chase. Kesepakatan itu diotaki oleh Federal Reserve.
7 September Departemen Keuangan AS mengambil alih raksasa pembiayaan perumahaan AS, Freddie Mac dan Fannie Mae, sekaligus menjamin utang setiap institusi itu masing-masing hingga US$ 100 Miliar.
15 September 1.      Bank investasi Lehman Brothers mendaftarkan proteksi kebangkrutan, setelah pemerintah AS menolak untuk mem-bail out.
2.      Bank investasi lain , Merril Lynch akhirnya mencapai kesepakatan dengan Bank of America dalam sebuah rencana akuisisi bernilai US$ 50 miliar.
3.      Lembaga pemeringkat menurunkan peringkat utang American International G roup ( AIG).
Perusahaan asuransi terbesar dunia itu harga sahamya anjlok hingga 60,8%, melanjutkan penurunan yang sudah terjadi sebelumnya.
4.      Federal Reverse menyuntikkan US$ 70 miliar ke pasar.
5.      Indeks Dow Jones anjlok hingga 4,42% Indeks FTSE London merosot 3.92%, CAC Paris anjlok 3,78%, dan DAX Frankfurt anjlok 2,74%.
19 September 1.      Pemerintahan AS menyelamatkan AIG dengan menyuntikkan US$ 85 Miliar, dengan imbalan 79,9% saham perusahaan asuransi itu.
2.      Federal Reverse kembali menyuntikkan US$ 50 Miliar ke pasar.
17 September Saham-saham kembali berjatuhan akibat ketidakpastian ekonomi. Indeks Dow Jones kembali anjlok 4,06%. Bapepam AS melarang aksi short selling di sejumlah saham sektor finansial.
18 September 1.      Federal reserve dan bank-bank sentral dari berbagai dunia menyuntikkan US$ 300 Miliar ke pasar kredit. Saham-saham kembali melonjak berkat kabar meluasnya bail out oleh pemerintah AS, indeks Dow Jones meloncat 3,86%
2.      Setekah penutupan pasar, Menkeu AS Henry Paulson meminta persetujuan dari kongres untuk membeli aset-aset bermasalah yang berhubungan dengan mortgage dari pada lembaga institusi.
19 September Pemerintah AS mengumumkan rencana penyelamatan krisis finansial senila US$ 700Miliar. The Fed menyuntikkan lagi US$ 20 Miliar ke pasar kredit. Saham-saham menguat dengan Indeks Dow Jones naik hingga 3,35%.
          
Krisis global yang terjadi di Amerika merupakan salah satu krisis keuangan yang terburuk di milenium baru ini. Dana yang dibutuhkan untuk memulihkan kondisi perekonomian Amerika sebesar USD 700miliar atau setara dengan Rp.6.500 triliun ( dibandingkan dengan krisis keuangan Indonesia tahun 1998-1999 yang memakan biaya sekitar Rp.650 triliun ). Bantuan dana talangan ini diputuskan melalui perdebatan panjang selama dua pekan, melibatkan para anggota kongres dan kantor kepresidenan.

  • Krisis Public Relations sering disebut juga sebagai krisis komunikasi, terjadi karena pemberitaan negatif yang kemudian berimbas buruk pada bisnis perusahaan, pemberitaan media atau isu yang beredar bisa jadi benar atau mungkin saja tidak, tetapi berpotensi mempengaruhi citra seseorang atau perusahaan. Salah satu tugas PR adalah mengklarifikasi pemberitaan di media yang tdak seimbang atau yang memojokkan
  • Krisis strategi (Strategic crisis) adalah perubahan dalam lingkungan bisnis yang menyebabkan kelangsungan hidup perusahaan menjadi terganggu. Perusahaan sebaiknya selalu memiliki rencana dalam menghadapi krisis dan menghindari keputusan yang justru akanmembuat perusahaan terperosok lebih jauh dalam krisis. Mereka harus tahu skenario terburuk yang akan terjadi dan mempunyai contingency plan dalam menghadapinya.

Faktor Penyebab Krisis

Krisis tidak bisa dideskripsi datangnya. Jalan terbaik untuk menghadapinya adalah membuat perencanaan. If you want peace, prepare for war. Berikut dijelaskan sembilan jenis krisis berdasarkan penyebabnya :

1. Krisis karena bencana alam
Tipe paling relevan dari krisis adalah yang disebabkan oleh bencana alam. Bencana alam, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, dan kebakaran dapat terjadi di lingkungan sekitar kita dan manusia selalu tidak berdaya menghadapinya.

Banyak negara telah merasakan dampak dari bencana alam. Amerika pernah diserang badai Katrina, Australia dilanda kebakaran hutan hebat, dan indonesia digulung Tsunami di Aceh dan digoyang gempa di Jogjakarta.

Selain menelan korban jiwa, bencana meluluhlantahkan seluruh sendi-sendi kehidupan. Selain menelan korban jiwa, rumah dan gedung perkantoran hancur, jalan rusak, listrik mati, air bersih langka, dan merebaknya penyakit. Ambruknya perekonomian adalah multiplier effect dari bencana alam. Cost recovery untuk daerah yang terkena krisis yang sangat besar.

2. Krisis karena kecelakaan industri
Krisis karena kecelakaan industri cukup bervariasi, mulai dari mesin yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, kebakaran, hingga kecelakaan kerja. Jika krisis ini terjadi maka perusahaan harus memberikan perhatian secara penuh dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Kecelakaan industri yang dapat menyebabkan kematian biasanya menjadi ‘magnet bagi media’.

Banyak perusahaan berada dalam krisis karena masalah ini, sebut saja semburan lumpur Lapindo yang mnegakibatkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal, kebocoran ga disebuah hypermarket yang mengakibatkan beberapa orang pingsan, dan yang paling mutakhir adalah meledaknya depo pertamina Plumpang.

3. Krisis karena produk yang kurang sempurna
Dalam bisnis perusahaan menghasilkan produk yang terdiri dari barang (goods) dan jasa service (service). Barang dan jasa juga memiliki potensi krisis. Hal ini mungkin saja terjadi karena produk yang dihasilkan cacat (defect) atau kurang sempurna. Walaupun sebelumnya perusahaan telah melakukan riset dan teknik pengembangan produk.

4. Krisis karena persepsi publik
Saat krisis terjadi, perusahaan yang mengalaminya mungkin akan menjumpai krisis lain karena krisis yang terjadi sebelumnya tidak teratasi dengan baik. Inilah yang menyebabkan potensi kerugian menjadi berlipat ganda, baik dari segi keuangan maupun moral karyawan karena citra perusahaan yang terus memburuk.

Krisis karena persepsi publik biasanya disebabkan karena perusahaan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma yang ada di masyarakat atau yang bertentangan dengan keinginan dan kepentingan publik.

5. Krisis karena hubungan kerja yang buruk
Hubungan kerja yang buruk antar pekerja dan perusahaan dapat menjurus pada krisis besar. Krisis ini dapat mengarah pada kondisi tidak terkendali yang serius dalam operasional perusahaan. Kekuatan buruh terkadang dapat memaksa industri untuk tutup sehingga perusahaaan terpaksa bertindak agresif. Hubungan antara buruh dan perusahaan seharusnya dijaga agar tidak sampai pada level seling merusak.

6. Krisis karena kesalahan strategi bisnis
Penyebab utama dari krisis ini adalah perencanaan atau implementasi strategi bisnis yang keliru atau tidak tepat, yang dilakukan oleh manajeme. Krisis jenis ini biasanya tidak dapat diprediksi sebelumnya. Hal ini terjadi karena pergeseran pasar mendadak yang tidak diantisipasi oleh manajemen, kegagalan untuk menyesuaikan dengan kebijakan pasarm krisis global yang secara tidak langsung berimbas pada bisnis perusahaan. Walaupun tidak dapat diprediksi sebelumnya, manajemen harus bertanggung jawab atas krisis tersebut.

7. Krisis karena terkait masalah kriminal
Krisis yang terkait masalah kriminal belakangan ini sering terjadi. Krisis jenis ini merupakan ancaman besar untuk beberapa industri seperti pariwisata, perbankan, penerbangan.
Contoh krisis ini, antara lain terorisme, pembajakan, kekerasan, perjudian, pemalsuan, dan pencurian. Krisis ini membutuhkan respon yang tepat karena menjadi ‘magnet media’.

8. Krisis karena pergantian manajemen
Kadang-kadang perubahan dalam organisasi dianggap sebagai suatu krisis. Beberapa perusahaan menempatkan CEO mereka sebagai fitur penting yang tidak tergantikan sehingga kepergiannya betul-betul menimbulkan krisis. Beberapa perusaahan perlu menyiapkan rencana pergantian pimpinan sehingga krisis semacam itu tidak perlu terjadi.

9. Krisis karena persaingan bisnis
Ketatnya persaingan bisnis dapat menyebabkan persaingan bisnis ini menjadi semakin sering terjadi beberapa perusahaan ini yang memonopoli pasar dapat mengontrol pasar dan menyerang pesaing secara frontal. Hal inilah yang menyebabkan pesaing rugi dan harus mengeluarkan banyak uang untuk bangkit dan membangun kembali nama dan reputasi mereka.

Sekian artikel tentang Pengertian Krisis, Manajemen Krisis, dan Faktor Penyebab Krisis. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
  1. Sandra M Oliver, Handbook of Corporate Communication and Public Relations: Pure and Applied, Routledge, 2004.
  2. Joep Cornelissen, Corporate Communications: Theory and practice, Sage, 2005.
  3. Dennis L. Wilcox, Glen T. Cameron, Public Relations Strategies and Tactics, edisi ke Sembilan, Pearson International Edition, 2009.
  4. Andre Hardjana, Audit Komunikasi, PT Granada Media, Jakarta, 2001.
  5. Alison Theaker, The Public Relations Handbook, Routledge, 2001
  6. Soleh Soemirat, dan Elvinaro Ardianto,  Dasar-dasar Public Relations.

Pengertian Reputasi dalam Public Relations dan Organisasi

Pengertian Reputasi dalam Public Relations dan Organisasi - Dalam sebuah perusahaan, pengelolaan reputasi merupakan tanggung jawab bersama dan oleh masing-masing pihak, tidak hanya sadar dan percaya terhadap proses pengelolaan reputasi saja akan tetapi adanya berkomitmen serta konsisten guna mewujudkannya. PR merupakan salah satu dari sekian banyak faktor yang dapat memberikan kontribusi terbangunnya sebuah citra dalam membentuk reputasi perusahaan.

Berkenaan dengan tema ini, bagaimana menjalankan PR dalam kontek marketing, sehingga tujuan dan aplikasi ini dapat terwujud?

Di dalam Public Relations sebagai salah satu kegiatan CSR merupakan aktivitas community relations, yang bertujuan untuk menjaga organisasi yang berkelanjutkan dalam jangka panjang, sehingga kegiatannyapun terkandung tujuan untuk kemaslahatan bersama. Karena organisasi bisnis tak hanya berupaya mendapatkan hasil secara financial saja atau mendapatkan keuntungan semata, namun lebih harus mengembangkan sumber daya manusia yang dimilikinya dalam menjalankan serta menjaga kegiatan komunitas yang keberlanjutannya.

Sehingga pendekatan publik relations sangat dibutuhkan system yang strategis dan fundamental guna menciptakan konsep-konsep generik termasuk faktor-faktor pragmatis (bottom-line) yang dapat diukur. Terlebih lagi yang berkaitan dengan pemberian suatu merek (branding). Sehingga strategi yang dikomunikasikan dapat terintegrasi. memerlukan adanya kontrol korporasi seperti kegiatan pengiklanan produk dan jasa berjalan dalam kerangka strategi public relations korporasi guna untuk memastikan adanya koherensi dan konsistensi.

Terlebih hubungan PR dengan marketing sangat panjang dan berkaitan. Ada empat tingkatan aktifitas publik relatios untuk tujuan pemasaran, dimasa pertama untuk organisasi kecil atau organisasi amal yang sampai saat ini jarang menggunakan publik relations professional dari luar atau jasa-jasa pemasaran, sebagaimana diungkapkan oleh  Philip Kotler dan Mindak (1978). Kelompok kedua, terutama dari sektor publik yang menggunakan jasa publik relations sementara. Yang ketiga adalah perusahaan manufaktur kecil yang sering menggunakan jasa-jasa pemasaran eksternal atau pramuniaga dari dalam perusahaan sendiri. Kelompok keempat yaitu diperusahaan-perushaan Fortune 500 yang besar, public relations dan pemasaran biasanya adalah dua departemen yang terpisah yang saling melengkapi.

Secara tradisonal yang dapat dimasukan kedalam publik relations salah satunya komunikasi, periklanan and pemasaran, tetapi pada era 1990-an sebuah pendekatan yang lebih substantive pada kegiatan pendidikan dan pelatihan muncul melalui institute of advertisng untuk pengembangan periklanan dan chartered institute of marketing untuk pengembangan pemasaran. Ketika jumlah informasi yang keluar dan diterima organisasi semakin meningkat terlebih dengan dengan dengan keberadaannya internet dewasa ini jauh melebihi apa yang dibutuhkan oleh para ahli strategi khususnya publik relations sehingga butuh adanya system intelejen yang dapat mengakses tidak hanya mengambil data yang relevan sehingga pesan yang disampaikan ke lokasi dapat dianalisis oleh para kelompok yang tepat, walau selalu fokus dalam pencarian  penggunaan data komunikasi pemasaran belum tentu bisa terpenuhi didalam kebutuhan kelompok iklan meskipun sangat membantu konsumen dengan mengorbankan stakeholder lainnya.

Karena tingkat kebutuhan akan akses data yang sangat tinggi, system informasi manajemen berusaha mengembangan teknologi baru untuk dapat mengidentifkasi data yang penting, sehingga perlu diadakannya kebutuhan komunikasi jangka panjang dengan konsumen. Dalam hal ini para professional pemasaran harus segera bertindak guna merancang serta menganalisa dan melaporkan data yang sistematis dan memberikan keputusan yang relevan serta mempertahankan goodwill secara tradisional sehingga dapat dilihat salah satu hubungan konsumen yang dalam aktiftas publik relations.

Pengertian Reputasi dalam Public Relations dan Organisasi_
image source: farner.ch
baca juga: Pengertian dan Contoh Manajemen Isu dalam Public Relations

Reputasi perusahaan merupakan resultan dari pemenuhan terhadap ekspektasi rasional dan ekspektasi emosional masing-masing stakeholder terhadap perusahaan dalam setiap momen interaksinya. Ekspektasi rasional lebih didasarkan atas kinerja atau kualitas dari produk yang dikonsumsi sedangkan ekspektasi emosional lebih didasarkan atas perilaku dan persepsi stakeholder.

Bicara masalah ekspektasi rasional ini menyangkut masalah produk dan layanan (persepsi kualitas produk, inovasi, nilai, keandalan produk atau jasa) dan kinerja finansial (persepsi atas profitabilitas, prospek, dan resiko perusahaan) serta Visi dan Kepemimpinan (seberapa jauh perusahaan menunjukkan visi yang jelas dan kepemimpinan yang kokoh), sedangkan berbicara masalah ekspektasi emosional lebih menyangkut masalah imbauan emosional (sejauhmana perusahaan disukai,diminati dan dihormati), lingkungan kerja (sejauhmana persepsi atas seberapa baik perusahaan dikelola bagaimana bekerjanya dan bagaimana kualitas karyawannya) serta tanggungjawab sosial, (sejauhmana persepsi atas perusahaan sebagai warga negara yang baik yang berkaitan dengan komunitas, karyawan dan lingkungannya).

Reputasi merupakan akumulasi dari corporate image secara lintas kelompok antar stakeholders maupun dalam lintasan waktu (over the time).

Dalam sebuah perusahaan, pengelolaan reputasi merupakan tanggungjawab bersama masing-masing pihak dalam perusahaan, tidak hanya sadar dan percaya terhadap proses pengelolaan reputasi tetapi juga berkomitmen untuk secara konsisten mewujudkannya. Untuk itu diperlukan konsensus antara manajemen dan karyawan dalam tata nilai utama (core value) dan tujuan perusahaan. Sedangkan pencitraan yang dibangun untuk mendapatkan citra kolektif berupa reputasi merupakan fungsi Public relations dalam mengkomunikasikan suatu program kepada publiknya baik internal maupun eksternal.

Secara sepintas, ada empat indikator yang dapat dipakai untuk menaksir seberapa kuat reputasi suatu perusahaan, antara lain :
  1. Kaya saing perusahaan dalam menjual produk atau jasa layanan dengan harga premium pada kurun waktu yang tidak sebentar;
  2. Kesanggupan perusahaan dalam merekrut dan mempertahankan staf kunci yang berkualitas;
  3. Konsistensi perusahaan dalam mendapatkan dukungan words of mouth (WOM) berupa rekomendasi positif baik dari sisi pasokan maupun pemasaran dan
  4. Keberpihakan publik ketika terjadi masalah, tidak saja dalam kemampuan perusahaan untuk berkelit dari media ataupun kritikan publik.

Reputasi yang kuat dibangun dari tindakan operasional sehari-hari yang konsisten dengan tata nilai perusahaan, tidak cukup satu gebrakan saja. Diperlukan segmentasi dan penentuan skala prioritas untuk membidik khalayak yang secara kritis mempunyai dampak yang tinggi (high impact), misalnya influencer yang dapat mengubah opini. Dan untuk menjembatani antara perusahaan dan khalayaknya dibutuhkan komunikasi yang proaktif dan terencana dengan baik. Sebagai contoh sasaran khalayak dari aktivitas PR/CSR adalah masyarakat atau komunitas setempat, maka dalam programnya harus direncanakan dengan baik dan secara terus menerus selama perusahaan beroperasi.

Sehingga dapat dikatakan bahwa reputasi merupakan asset penting yang akan terasa sekali manfaatnya antara lain saat perusahaan menghadapi krisis. Adam Joly menyatakan bahwa secara makro kunci dari pengelolaan reputasi adalah behave well . Kelihatannya sederhana tapi dalam praktiknya tidaklah sesederhana itu. Dan Reputasi merupakan kolektif image yang dibangun dalam rentang waktu yang cukup lama secara berkesinambungan dan konsisten.

Reputasi dalam Public Relations

Ada semacam paradoks yang berkembang dalam pengelolaan reputasi, bahwa semakin dibutuhkan, reputasi cenderung semakin sulit untuk dikelola. Yang jelas, kehilangan reputasi yang baik jauh lebih gampang dibanding usaha untuk membangunnya. Sebagian orang menyatakannya dalam metafora, dibutuhkan sepuluh tahun untuk membangun reputasi yang baik, tetapi cukup satu menit saja untuk meruntuhkannya. Mempertahankan reputasi seseorang tidaklah mudah, apalagi mempertahankan reputasi yang baik dari perusahaan.

Adam Joly menyatakan bahwa secara makro kunci dari pengelolaan reputasi adalah: behave well. Kelihatannya sederhana, tapi dalam prakteknya tidaklah sesederhana itu. Mengingat reputasi perusahaan merupakan resultan dari pemenuhan terhadap ekspektasi rasional dan ekspektasi emosional masing-masing stakeholder terhadap perusahaan dalam setiap momen interaksinya.

Ekspektasi rasional seperti kita ketahui bersama lebih didasarkan atas kinerja atau kualitas dari produk yang dikonsumsi sedangkan ekspektasi emosional lebih didasarkan atas perilaku dan persepsi stakeholder. Stakeholder di sini mencakup karyawan, pelanggan, pemasok, pemegang saham, LSM, ataupun pemerintah. Padahal, masing-masing stakeholder memiliki derajat kepentingan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Luasnya cakupan khalayak ini mengakibatkan upaya membangun reputasi membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan membangun citra perusahaan.

Tidak heran jika reputasi perusahaan merupakan aset strategis, karena reputasi dapat meningkatkan value dari perusahaan yang bersangkutan. Dalam artikel A.B. Susanto yang berjudul reputasi dan public relations mengemukakan pengalamannya bahwa selaku konsultan yang juga menggeluti jasa executive search menunjukkan betapa reputasi yang kuat membantu perusahaan tidak hanya dalam menjual produknya dengan harga yang menguntungkan, tetapi juga dalam menarik karyawan berpotensi tinggi untuk bekerja padanya. Perusahaan dengan reputasi yang kuat cenderung menjadi perusahaan idaman dan tambatan bagi profesional yang qualified.

Wajar jika belakangan ini makin banyak perusahaan bergiat dalam mengelola reputasinya. Hanya saja, ada beberapa catatan penulis menyikapi fenomena yang terjadi di lapangan. Ada kecenderungan bahwa perusahaan melihat reputasi perusahaan lebih berdasarkan persepsi internal. Akibatnya, perusahaan terjebak dalam perspektif yang menyesatkan. Lantas, bagaimana cara untuk mengetahui seberapa kuat reputasi perusahaan?

Dalam hal ini yang dapat dilakukan adalah mengukurnya melalui penelitian pasar. Proses ini dapat menunjukkan di posisi apa reputasi perusahaan jika dibandingkan dengan reputasi para pesaing. Selain itu pegukuran reputasi perusahaan juga dapat menunjukkan sektor mana saja yang perlu diprioritaskan dan secara umum berlaku sebagai road map bagi perjalanan proses pengelolaan reputasi itu sendiri.

Beberapa perusahaan melakukan pengukuran reputasi dengan pendekatan media coverage untuk kemudian menterjemahkan isinya ke dalam reputation score cards. Memang opsi ini lebih baik daripada tidak ada action evaluasi sama sekali, walaupun opsi ini bukannya tidak mempunyai kelemahan. Kalau diperhatikan secara lebih seksama akan tampak betapa pendekatan ini lebih fokus kepada merekam outcome dari aktivitas humas di media, sedangkan pengaruhnya terhadap khalayak sasaran luput dari pengukuran.

Secara sepintas, ada empat indikator yang dapat dipakai untuk menaksir seberapa kuat reputasi suatu perusahaan:

  • Pertama, daya saing perusahaan dalam menjual produknya dengan harga premium pada kurun waktu yang tidak sebentar.
  • Kedua, kesanggupan perusahaan dalam merekrut dan mempertahankan staf kunci yang berkualitas.
  • Ketiga, konsistensi perusahaan dalam mendapatkan dukungan words of mouth berupa rekomendasi positif baik dari sisi pasokan maupun pemasaran.
  • Keempat, keberpihakan publik ketika terjadi masalah, tidak saja dalam kemampuan perusahaan untuk berkelit dari media ataupun kritikan publik.


Penulis juga mengamati, terutama saat keadaan memaksa perusahaan untuk berubah, tidak sedikit perusahaan dalam mengelola reputasinya hanya dengan perubahan yang sifatnya hanya menyentuh kulit. Perubahan kosmetis seperti penggantian logo semata tidak akan berarti banyak. Pengelolaan reputasi, apalagi bagi perusahaan yang baru saja mengalami krisis, membutuhkan perubahan yang fundamental dalam satu proses yang terintegrasi. Tidak lain, karena reputasi bukanlah sekedar masalah kepercayaan diri tetapi menyangkut jalinan yang didasarkan atas kepercayaan (trust) dan integritas.

Reputasi yang kuat dibangun dari tindakan operasional sehari-hari yang konsisten dengan tata nilai perusahaan, tidak cukup satu gebrakan saja. Diperlukan segmentasi dan penentuan skala prioritas untuk membidik khalayak yang secara kritis mempunyai dampak yang tinggi (high impact), misalnya influencer yang dapat merubah opini.

Untuk menjembatani perusahaan dengan khalayaknya baik dalam masa krisis maupun masa ’damai’ tentu saja dibutuhkan komunikasi yang proaktif dan terencana dengan baik. Pesan yang sesuai dengan budaya komunitas yang disasar harus dibuat sedemikian rupa sehingga lebih dari sekedar dapat diterima tetapi betul-betul menarik, menggugah, dan dapat menjadi ’mantra’. Untuk itu pesan harus dikemas secara unik dan disampaikan secara konsisten kepada khalayak yang tepat. Outreach yang baik dengan melibatkan media berpengaruh jelas sangat penting artinya untuk penyampaian pesan. Demikian halnya dengan program-program yang berkenaan dengan corporate social responsibility dan sponsorship yang sifatnya strategis. Pembentukan citra yang positif dengan iklan juga akan mampu meningkatkan reputasi perusahaan.

Pengelolaan reputasi merupakan tanggung jawab bersama, tidak cukup hanya dibebankan pada bagian PR atau bahkan pimpinan perusahaan semata. Sebaliknya, tanpa dukungan dari manajemen puncak, pengelolaan reputasi cenderung akan berjalan di tempat. Masing-masing pihak dituntut untuk tidak hanya sadar atau percaya terhadap proses pengelolaan reputasi, tetapi juga berkomitmen untuk secara konsisten mewujudkannya. Untuk itu harus ada konsensus antara manajemen dan karyawan dalam tata nilai utama (core values) dan tujuan perusahaan. Meskipun demikian, perlu diorganisasikan dengan jelas antara pengelolaan reputasi perusahaan dan pengelolaan reputasi produk. Masing-masing mempunyai porsi dan penanggung jawab sendiri-sendiri dan diatur sedemikian rupa agar tidak saling berbenturan sehingga tidak kontra produktif.

Pengelolaan reputasi yang efektif tidak bisa dilepaskan dari peran bisnis perusahaan dalam menangkap peluang (ofensif) dan menanggulangi ancaman (defensif). Strategi ofensif bisa diterapkan saat launching produk baru, melakukan akuisisi atau merubah model bisnis. Dengan demikian, reputasi menjadi bagian dari karakter, budaya, dan DNA perusahaan, yang penulis perlu tekankan kembali: harus direfleksikan dalam kegiatan operasional sehari-hari. Tidak boleh dilupakan, karyawanlah yang dalam prakteknya berperan sebagai duta yang akan mempengaruhi reputasi perusahaan.

Sekian artikel tentang Pengertian Reputasi dalam Public Relations dan Organisasi. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
  1. John Doorley, Helio Fred Garcia, Reputation Management: The Key to Successful Public Relations and Corporate Communication, Routledge, 2007.
  2. Jerry A Hendrix, Public Relations Cases, Wadsworth, 2001.
  3. Kim Harrison, Strategic Public Relations: A Practical Guide to Succes, second edition, Vineyard Publishing, 2001.
  4. Sandra M Oliver, Handbook of Corporate Communication and Public Relations: Pure and Applied, Routledge, 2004.
  5. Soleh Soemirat, dan Elvinaro Ardianto,  Dasar-dasar Public Relations.

Pengertian dan Contoh Manajemen Isu dalam Public Relations

Pengertian dan Contoh Manajemen Isu dalam Public Relations - Public relations adalah seni menciptakan pengertian publik yang lebih baik sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu individu/organisasi. Menurut IPRA (International Public Relations Association) Public Relations adalah fungsi manajemen dari ciri yang terencana dan berkelanjutan melalui organisasi dan lembaga swasta atau publik untuk memperoleh pengertian, simpati, dan dukungan dari mereka yang terkait atau mungkin ada hubungannya dengan penelitian opini public di antara mereka.Sebagai sebuah profesi seorang Public Relations bertanggung jawab untuk memberikan informasi, mendidik, meyakinkan, meraih simpati, dan membangkitkan ketertarikan masyarakat akan sesuatu atau membuat masyarakat mengerti dan menerima sebuah situasi.

Seorang Public Relations selanjutnya diharapkan untuk membuat program-program dalam mengambil tindakan secara sengaja dan terencana dalam upaya mempertahankan dan memelihara pengertian bersama antara organisasi dan masyarakatnya.

Posisi Public Relations merupakan penunjang tercapainya tujuan yang ditetapkan oleh suatu manajemen organisasi. Sasaran humas adalah publik internal dan eksternal, dimana secara operasional humas bertugas membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publiknya dan mencegah timbulnya rintangan psikologis yang mungkin terjadi di antara keduanya.

Isu dalam Public Relations

Terminologi issue management pertama kali dikenalkan oleh W. Howard Chase pada 15 April 1976 dalam sebuah risalahnya yang berjudul “Corporate Public Issues and Their Management” Volume 1 No. 1. Risalah tersebut, menyebutkan bahwa tujuan – tujuan manajemen isu adalah untuk mengelola isu yang beredar di publik.

Barry Jone, W. Howard Chase mendefinisikan Manajemen Isu sebagai sebuah alat yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola berbagai isu yang muncul ke permukaan serta bereaksi terhadap berbagai isu tersebut sebelum isu – isu tersebut diketahui masyarakat luas.

Manajemen Isu merupakan keahlian seorang Public Relations. Ada beberapa tujuan dalam manajemen isu yang berhubungan erat dengan praktisi Public Relations, sebagai berikut:
  1. Untuk memahami isu, maka Public Relations harus dapat memahami motif publik yang memunculkan isu.
  2. Untuk memonitor situasi, mendengarkan kritik & saran.
  3. Untuk menentukan posisi isu dan memahami isu yang berkembang.

Para pakar Public Relations di Indonesia mengartikan manajemen isu sebagai fungsi manajemen yang mengevaluasi sikap masyarakat, baik internal maupun eksternal, mengidentifikasi hal–hal atau masalah yang patut dikhawatirkan dan melakukan usaha–usaha ke arah perbaikan.

Pengertian dan Contoh Manajemen Isu dalam Public Relations_
image source: issue-crisis.com
baca juga: Pengertian Reputasi dalam Public Relations dan Organisasi 

Pengertian Manajemen isu

Definisi Manajemen isu didefinisikan sebagai suatu usaha aktif untuk ikut serta memengaruhi dan membentuk persepsi, opini, dan sikap masyarakat yang mempunyai dampak terhadap perusahaan (Wongsonagoro, 1995).

Berdasarkan definisi sebelumnya dapat disimpulkan bahwa manajemen isu adalah suatu proses manajemen yang bertujuan untuk membantu:
  • Melestarikan Pasar
  • Mengurangi Risiko
  • Menciptakan Peluang
  • Mengelola citra sebagai asset organisasi/perusahaan, baik untuk kepentingan organisasi itu sendiri maupun para stakeholder. 

Sebuah isu, terlepas dari benar atau tidak, jika tidak direspons dengan baik akan menyebabkan dampak yang merugikan. Isu yang tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan krisis dan krisis berpotensi mengancam reputasi perusahaan. Bedasarkan penjabaran pada bab ini, seorang Public Relations harus mendalami manajemen isu sebagai keahlian yang juga harus dimiliki praktisi Public Relations.

Selain mendalami manajemen isu, kita sebagai praktisi Public Relations, juga harus mempunyai teknik dalam mengelola reputasi dan merk didalam perusahaan. Adanya banyak faktor yang dijelaskan dalam bab ini, merupakan masih banyaknya tugas yang harus dikerjakan. Penguasaan manajemen krisis dan strategi dalam pengelolaan ini merupakan nilai tambah bagi praktisi pr di masa depan.

Menurut Howard Chase (1977), manajemen isu meliputi tindakan mengidentifikasi  isu, menganalisis isu, menetapkan prioritas, menentukan strategi program, menetapkan program tindakan dan komunikasi serta melakukan evaluasi efektivitas kerja. Semua tindakan tersebut merupakan proses yang menggabung prinsip, kebijakan berkembang. Chase mendefinisikan manajemen isu sebagai sebagai: the process of closing the gap between corporate actions and skateholder expectation. (proses untuk menutupi jurang pemisah antara tindakan korporat dan harapan pihak terkait).

Menurut Kerry Tucker dan rekan (1993) memiliki definisi yang lebih panjang yang mencakup hal-hal yang berada di luar humas: manajemen isu adalah proses manajemen yang memiliki tujuan untuk membantu memelihara pasar, mengurangi risiko, menciptakan kesempatan serta mengelola citra sebagai suatu asset organisasi untuk keuntungan organisasi dan pihak-pihak terkait. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui antisipasi, riset serta menetapkan prioritas isu serta menilai dampak isu terhadap organisasi.

Menurut Cutlip-Center-Broom, manajemen isu meliputi dua tindakan mendasar yaitu:
  1. melakukan identifikasi awal terhadap isu yang memiliki potensi untuk merugikan organisasi atau perusahaan;
  2. memberikan tanggapan terhadap isu untuk meminimalisir konsekuensi dari munculnya isu.

Sebagai bagian dari fungsi humas, maka manajemen isu dapat didefinisikan sebagai berikut: Issues management is the proactive process of anticipating, identifying, evaluating, and responding to public policy issues that affects organizations relationship with their publics. Manajemen isu adalah proses proaktif dalam mengantisipasi, mengidentifikasi, mengevaluasi dan menjawab isu –  isu kebijakan publik yang memengaruhi hubungan organisasi dengan publiknya).

Begitu pula yang dijelaskan dari sebuah artikel yang ditulis oleh Elizabeth Dougall, Ph.D. dari University of North Carolina at Chapel Hill yang membahas tentang Isu-isu manajemen yang menurutnya adalah sebuah konsep yang menggoda. Bagi mereka yang  berbakat dan cukup ulet untuk mendongkrak karier kehumasan dalam mengelola isu yang  berkembang di masyarakat, membawa mereka ke arah yang benar-benar menguntungkan  bahkan sebaliknya. Berjuang untuk legitimasi Humas sebagai fungsi manajemen, kredibilitas dan senior manajemen termasuk masalah akses manajemen yang dapat memberikan sesuatu komunikasi yang profesional dan mungkin menemukannya hanya di tengah-tengah krisis.

Tahun 2007 survei dari CEOsrevealed harapan mereka adalah komunikasi yang dilengkapi untuk bagaimana cara mengantisipasi yang berbeda "see around corners" kepada khalayak yang pada akhirnya akan bereaksi terhadap sebuah peristiwa yang berbeda, antara  pesan dan saluran (TheAuthentic Enterprise, 2007, ms. 44). Manajemen Isu adalah sebuah antisipatif, proses strategi manajemen yang membantu organisasi mendeteksi dengan tepat merespon tren atau perubahan dalam lingkungan sosial  politik. Tren atau perubahan ini mungkin kemudian mengkristal menjadi "masalah," yang merupakan situasi yang membangkitkan perhatian dan kepedulian publik kepada organisasi yang pada akhirnya akan berpengaruh kepada stakeholder.

Mengelola Isu

Isu merupakan sesuatu yang bersifat bertentangan atau yang menimbulkan polemik tentang seseorang (individu) atau sebuah organisasi. Isu bisa muncul dalam bentuk opini, yaitu pernyataan yang bisa dikemukakan melalui kata-kata, isyarat, atau cara-cara lain yang mengandung arti tertentu. Misalnya, isu berkaitan dengan pemberlakuan suatu UU baru seperti: UU ketenagakerjaan, UU penanaman modal asing. Atau Isu mengenai kebijakan pemerintah terkait kesepakatan regional seperti ASEAN Community. Isu bisa muncul, misalkan berkisar pada nasib tenaga professional lokal sebagai dampak dari kebijakan ekonomi regional itu. Cara menangani isu tersebut, memunculkan kajian tentang manajemen isu.

Manajemen isu adalah proses manajemen yang bertujuan membantu melindungi pasar, mengurangi resiko, menciptakan kesempatan-kesempatan serta mengelola image, sebagai sebuah aset organisasi, baik untuk kepentingan organisasi itu sendiri maupun kepentingan stakeholders. Manajemen isu meliputi serangkaian aktivitas yang berkesinambungan.

Pada tahap awal, sebuah issue muncul kepermukaan ketika sebuah organisasi atau kelompok merasa berkepentingan terhadap suatu masalah (atau kesempatan). contoh: terjadi perkembangan tren politik, perubahan undang-undang, ekonomi dan sosial, perubahan teknologi, dan sebagainya. Dari sudut pandang manajemen, tren harus diidentifikasi sebagai asal kemunculan isu.

Kedua, menganalisis isu. Yang perlu dicermati, sumber isu bisa dari seorang individu, bisa pula dari organisasi. Kegiatan pada tahap ini bertujuan, menentukan asal isu tersebut yang seringkali sulit karena biasanya isu tidak muncul hanya dari satu sumber saja. Disini, kemampuan riset, kualitatif maupun kuantitatif menjadi sangat penting. Tahap riset dan analisa awal ini akan membantu mengidentifikasi apa yang dikatakan oleh individu dan kelompok berpengaruh tentang isu-isu dan memberikan ide yang jelas pada manajemen.

Ketiga, pilihan strategi perubahan isu (Issue Change Strategy Options) meliputi tiga cara:
  • organisasi tetap berfokus pada sikap lama dan tidak ingin melakukan perubahan (strategi perubahan reaktif) atau organisasi melakukan strategi perubahan adaptif, yang berlandaskan pada perencanaan
  • mengantisipasi perubahan serta menawarkan dialog konstruktif untuk menemukan sebuah bentuk kompromi atau akomodasi.
  • berkaitan dengan pilihan-pilihan strategi adalah menjadikan organisasi sebagai pelopor pendukung perubahan. Ini yang disebut dengan strategi dinamis.

Keempat, pemrograman tindakan terhadap isu setelah memilih salah satu dari ketiga pendekatan di atas sebagai respon terhadap setiap isu, organisasi harus memutuskan kebijakan yang mendukung perubahan yang diinginkan. Kelima, yang tidak kalah penting adalah evaluasi. Dibutuhkan riset untuk mengevaluasi hasil program yang didapat (actual) dibandingkan dengan hasil program yang diinginkan.

Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam menganalisis sebuah isu, yaitu :
  1. Pendekatan Sistem (System Approach)
  2. Pendekatan Stratejik (Strategik Reduction of Uncertainty Approach)
  3. Pendekatan Retoris (Rethorical Approach)
  4. Pendekatan Terintegrasi

Langkah-langkah yang harus dicermati dan diambil saat menghadapi sebuah isu yang berpotensi merusak reputasi adalah sebagai berikut:
  1. Identifikasi Isu,
  2. Analisis Isu ,
  3. Pilihan Strategi Perubahan Isu,
  4. Program Penanganan Isu ,
  5. Evaluasi Hasil.

Terdapat tiga pilihan strategi perubahan isu:
  1. Strategi Perubahan Reaktif,
  2. Strategi Perubahan Adaptif,
  3. Strategi Respons Dinamis,

Dalam sebuah model yang dikembangkan oleh Hainsworth & Meng, proses isu dapat digambarkan sebagai siklus yang terdiri dari empat tahap, yaitu:
  1. Tahap 1 Potential Stage 
  2. Tahap 2 Emerging Stage
  3. Tahap 3 & 4 Current Stage and Crisis Stage
  4. Tahap 5 Dormant Stage (Resolution)

Siklus atau Tahapan Isu
  • Untuk menginformasikan dan meyakinkan publik bahwa perusahaan memiliki berbagai data dan fakta tentang isu yang berkembang.
  • Melakukan persuasi kepada publik, sehingga penyelesaian terbaik dapat tercapai.
  • Memotivasi publik untuk membantu penanganan isu dan meminta publik mengurangi reaksi negative atas isu yang berkembang.
  • Terlibat dalam pembuatan keputusan dan negosiasi untuk menyatukan berbagai kepentingan, mengurangi konflik, dan menyelesaikan masalah.

Pada dasarnya, strategi pengelolaan merk & reputasi terbagi menjadi 2 yaitu keluar dan kedalam organisasi / perusahaan. Strategi pengelolaan merek & reputasi ke luar organisasi :
  • Hubungan media yang baik
  • Pensponsoran,

Menjaga & meningkatkan hubungan dengan publik eksternal kunci dari organisasi/perusahan. Humas dapat memberikan Kontribusi terutama dalam memantau opini publik yang berkembang, sehingga bisa menjadi referensi bagi manajemen untuk melakukan kegiatan tahap pertama, mengidentifikasi isu. Selain itu, Humas pun dapat memperkirakan, apa reaksi publik atas keputusan manajemen terkait dengan tindakan/langkah-langkah yang akan diambil.

Hal lain, Humas pun bisa memberikan kontribusi untuk menyampaikan informasi kepada manajemen berdasarkan masukan dari berbagai stakeholders untuk nantinya menjadi data penting manajemen. Terakhir yang tidakkah penting dalam kaitan dengan manajemen issue, Humas mengkomunikasikan keputusan manajemen kepada stakeholder terkait penanganan isu tersebut.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa manajemen isu (issues management) merupakan upaya organisasi atau perusahaan untuk melihat kecenderungan isu atau opini publik itu tidak berkembang secara negatif sehingga merugikan perusahaan atau agar isu itu tidak berkembang menjadi konflik yang tidak diinginkan. Upaya organisasi atau perusahaan untuk melihat kecenderungan isu atau opini publik yang yang muncul dilakukan melalui riset atau penelitian. Dengan demikian, mmanajemen isu adalah segala sesuatu yang berkenan dengan riset kehumasan.

Sekian artikel tentang Pengertian dan Contoh Manajemen Isu dalam Public Relations. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
  1. John Doorley, Helio Fred Garcia, Reputation Management: The Key to Successful Public Relations and Corporate Communication, Routledge, 2007.
  2. Jerry A Hendrix, Public Relations Cases, Wadsworth, 2001.
  3. Kim Harrison, Strategic Public Relations: A Practical Guide to Succes, second edition, Vineyard Publishing, 2001.
  4. Sandra M Oliver, Handbook of Corporate Communication and Public Relations: Pure and Applied, Routledge, 2004.
  5. Joep Cornelissen, Corporate Communications: Theory and practice, Sage, 2005.
  6. Gary Davies, Rosa Chun, Rui Vinhas Dasilva, Stuart Roper, Corporate reputation and competitiveness, Routledge, 2003.
  7. Dennis L. Wilcox, Glen T. Cameron, Public Relations Strategies and Tactics, edisi ke Sembilan, Pearson International Edition, 2009.
  8. Andre Hardjana, Audit Komunikasi, PT Granada Media, Jakarta, 2001.
  9. Alison Theaker, The Public Relations Handbook, Routledge, 2001
  10. Soleh Soemirat, dan Elvinaro Ardianto,  Dasar-dasar Public Relations.

Pengertian Tinjauan Pustaka, Kerangka Pemikiran, dan Keilmuan

Pengertian Tinjauan Pustaka dan Kerangka Pemikiran Keilmuan - Kerangka teoritis merupakan strategi dan pendekatan dalam memecahkan masalah, terdiri dari:

Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka merupakan sub-bab mengenai upaya penulis untuk meninjau, mengembangkan dan mengkaitkan masalah yang dirumuskan dengan teori, konsep, hasil penelitian maupun hasil dokumentasi yang ada sebelumnya.

Tinjauan Pustaka:
  • Mengembangkan uraian pada masalah penelitian.
  • Mengungkapkan dasar teoritis dan empiris suatu masalah.
  • Pengembangan suatu kerangka pemikiran.
  • Memberikan dasar perumusan hipotesis.
  • Membantu interprestasi hasil pengolahan data.

Kerangka Pemikiran
Kerangka konsepsi dan penelitian yang menyajikan hubungan variabel yang diperkirakan akan terjadi, dan diperoleh dari hasil/penjabaran tinjauan pustaka

Tujuan Kerangka Pemikiran
  • Memberikan arah strategi dan pendekatan penulis untuk memecahkan masalah.
  • Menggambarkan secara menyeluruh konsep yang digunakan dalam penelitian, dan sekaligus dapat menyajikan hubungan antara variabel atau faktor yang digunakan oleh penulis.
Pengertian Tinjauan Pustaka, Kerangka Pemikiran, dan Keilmuan_
image source: canberra.edu.au
baca juga: Format Penulisan Penelitian Kuantitatif Serta Unsur-Unsurnya

Pendekatan-Pendekatan dalam Keilmuan

Dalam mengatasi masalah kehidupan, manusia telah mengumpulkan sejumlah besar informasi atas pengetahuan. Petani mengetahui bahwa munculnya rasi bintang tertentu menunjukkan waktu yang baik untuk mulai mananam padai. Dukun dapat menunjukkan bahwa getah daun talas hitam dapat mempercepat penyembuhan luka. Orang mengetahui bahwa pembicara memiliki wibawa lebih pengengaruh daripada pendengarnya. Informasi-informasi ini sudah diterima kebenarannya tanpa dipersoalkan lagi. Informasi semacam ini kita sebut sebagai anggapan umum (commnon sense) dan merupakan pendahulu dari apa yang kita sebut sebagai ilmu.

Banyak cabang disiplin ilmu tumbuh dari anggapan umum atau dari pemecahan terhadap masalah kehidupan sehari-hari. Geometri dari pengalaman mengukur medan, biologi dari pengalaman mengatasi kesehatan manusia atau pengurusan binatang, ekonomi dari persoalan rumah tangga dan sebagainya. Banyak pembahasan ilmu yang begitu terkesan dengan pertalian antara anggapan umum dan ilmu sehingga menyatakan bahwa ilmu tidak lain daripada anggapan umum yang diorganisasikan dan diklasifikasikan (Negel, 1961: 3). Bahkan sering dijadikan lelucon bahwa pekerjaan ilmuwan sosial hanyalah menemukan apa yang sudah lama diketahui orang banyak.

Perbedaan Anggapan Umum dengan Ilmu:
  • Informasi anggapan umum biasanya tidak disertai dengan penjelasan mengapa itu terjadi. Ilmu berusaha menemukan dan merumuskan kondisi-kondisi yg menentukan terjadinya berbagai peristiwa. Pernyataan tentang kondisi-kondisi penentu inilah yg disebut penjelasan ilmiah
  • Informasi dalam anggapan umum mengandung konsep-konsep yang pengertiaanya luas atau kabur. Luas dlm arti bahwa makna / kelompok hal yg ditujukan o/ istilah tidak dibatasi secara jelas dan tajam. Kabur dlm arti hub. Di antara konsep-konsep itu tidak dirumuskan secara khusus dan cermat. Ilmu sebaliknya.
  • Anggapan Umum diterima tanpa diuji kebenarannya. Ilmu secara sistematis dan empiris menguji teori dan hipotesis yg dinyatakannya.
  • Anggapan umum tidak pernah mempersoalkan kontrol. Dalam pengertian ilmiah, kontrol berarti bahwa ilmuwan secara sistematis berusahan menghilangkan ikut sertanya variabel-variabel lain yang menjadi sebab terjadinya peristiwa tertentu selain variabel yg dihipotesiskan sebagai penyebab.
  • Ilmu dalam menjelaskan gejala yg diamatinya, selalu berusaha menghindari penjelasan metefisis. Karena penjelasan metafisis yg tidak dapat diuji

Ilmu komunikasi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner. Disebut demikian, karena pendekatan-pendekatan yang dipergunakan berasal dari dan menyangkut berbagai bidang keilmuan lainnya seperti linguistik, sosiologi, psikologi, antropologi, politik, dan ekonomi.  Hal ini yang terlihat secara jelas dalam pembahasan mengenai berbagai teori, model, perspekstif, dan pendekatan-pendekatan dalam ilmu komunikasi. Sifak kemultidisiplinan ini tidak dapat dihindari karena objek pengamatan dalam ilmu komunikasi sangat luas dan kompleks, menyangkut berbagai macam aspek sosial, budaya, ekonomi, dan  politik dari kehidupan manusia.

Sebelum sampai pada bahasan tentang berbagai teori dan model dalam Ilmu Komunikasi, terlebih dahulu akan dibahas mengenai pendekatan-pendekatan atau pandangan-pandangan dalam keilmuan yang berlaku di kalangan masyarakat akademis. Hal ini penting karena pandangan-pandangan tersebut merupakan kerangka dasar dari berbagai teori dan model yang ada dalam ilmu komunikasi.

Manurut Littlejohn (1989), secara umum dunia masyarakat secara ilmiah menurut cara pandang serta objek pokok pengamatannya dapat dibagi dalam 3 kelompok atau pendekatan. Pertama, pendekatan scientific, pendekatan humanistic, pendekatan social science.

Pendekatan scientific umumnya berlaku dikalangan ahli-ahli ilmu eksakta. Menurut pandangan ini ilmu diasosiasiakan sebagai objektifitas. Objektifitas yang dimaksud adalah objektivitas yang menekankan pada prinsip standarisasi observasi dan konsistensi. Landasan philosofisnya adalah bahwa dunia ini pada dasarnya mempunyai bentuk dan struktur. Secara individual para peneliti boleh jadi berbeda satu sama lainnya tentang bagaimana rupa atau macam dari bentuk dan struktur tersebut. Namun, apabila para peneliti melakukan penelitian terhadap suatu fenomena dengan menggunakan metode yang sama, maka akan dihasilkan temuan yang sama. Inilah hakekat dari objektivitas dalam konteks standarisasi objervasi dan konsistensinya.

Ciri utama lainnya dari kelompok pendekatan ini adalah adanya pemisahan yang tegas antara known (objek atau hal yang ingin diketahui dan diteliti) dan knower (subjek pelaku atau pengawat). Salah satu bentuk metode penelitian yang lazim dilakukan adalah metode eksperimen. Melalui metode ini, peneliti secara sengaja melakukan suatu percobaan terhadap objek yang ditelitinya. Tujuan penelitian lazimnya diarahkan pada upaya mengukur ada tidaknya pengaruh atau hubungan sebab-akibat diantara dua variabel atau lebih, dengan mengontrol variabel lain. Prosedur yang umum dilakukan adalah dengan cara memberikan atau mengadakan suatu perlakuan khusus kepada objek yang diteliti serta meneliti dampak atau pengaruhnya.

Apabila aliran pendekatan scientific mengutamakan prinsip objektivitasnya, maka kelompok pendekatan humanistic mengasosiasikan ilmu dengan subjektivitas. Perbedaan-perbedaan pokok antara kedua aliran pendekatan ini antara lain:
  1. Bagi aliran pendekatan scientific ilmu bertujuan untuk menstandarisasikan observasi, sementara aliran humanistic mengutamakan kreatifitas individual.
  2. Aliran scientific berpandangan bahwa tujuan ilmu adalah mengurangi perbedaan-perbedaan pandangan tentang hasil pengamatan, sementara aliran humanistic bertujuan untuk memahami tanggapan dan hasil temuan subjektif individual.
  3. Aliran scientifik memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu ”yang berada disana”, diluar diri pengmat peneliti. Di lain pihak, aliran humanistic melihat ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang ”berada disini”, dalam arti berada dalam diri pengamat/peneliti.
  4. Aliran scientific memfocuskan perhatiannya pada ”dunia hasil penemuan”, sedangkan aliran humanistic menitikberatkan perhatiannya pada ”dunia para penemunya”.
  5. Aliran scientific berupaya memperoleh ”konsensus”, sementara aliran humanistic mengutamakan interpretasi alternatif.
  6. Aliran scientific membuat pemisahan tegas antara knower dan known, sedangkan aliran humanistic cenderung tidak memisahkan kedua hal tersebut.

Dalam konteks ilmu-ilmu social, salah satu bentuk metode penelitian yang lazim dipergunakan dari aliran humanistic ini adalah ”partisipasi observasi”. Melalui metode ini, si peneliti dalam mengamati sikap dan perilaku dari orang-orang yang ditelitinya, membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan dari orang-orang yang ditelitinya. Misalnya: bergaul, tinggal di rumah orang-orang tersebut, serta ikut serta dalam aktivitas sehari-hari mereka dalam kurun waktu tertentu. Interpretasi atas sikap dan perilaku dari orang-orang yang ditelitinya, tidak hanya didasarkan atas informasi yang diperoleh melalui hasil wawancara atau tanya-jawab dengan orang-orang yang ditelitinya, tetapi juga atas dasar pengamatan langusung dan pengalaman berinteraksi dengan mereka.

Pandangan klasik dari aliran humanistic adalah bahwa cara pandang seseorang tentang sesuatu hal akan menentukan penggambaran dan uraiannya tentang hal tersebut. Karena sifatnya yang subjektif dan interpretatif, maka pendekatan aliran humanistic ini lazimnya cocok diterapkan untuk mengkaji persoalan-persoalan yang menyangkut sistem nilai, kesenian, kebudayaan, sejarah dan pengalaman pribadi.

Aliran ketiga adalah pendekatan khusus ilmu pengetahuan sosial. Pendekatan yang diterapkan oleh para pendukung kelompok aliran ini pada dasarnya merupakan gabungan atau kombinasi dari pendekatan-pendekatan yang ada. Dalam banyak hal, pendekatan ilmu social merupakan perpanjangan dari pendekatan ilmu alam, karena beberapa metoda yang diterapkan banyak diantarannya yang diambil dari ilmu alam. Namun, metode-metode pendekatan aliran humanistic juga diterapkan.

Sekian artikel tentang Pengertian Tinjauan Pustaka dan Kerangka Pemikiran Keilmuan. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
  1. Beer, Jennifer, Intercultural Communication at Work, Washington, 1997.
  2. Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.
  3. Rumondor, Alex dkk, Komunikasi Antarbudaya, Universitas Terbuka, Jakarta, 1996.
  4. Mulyana, Deddy, Komunikasi Efektif; Suatu Pendekatan Lintasbudaya, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.

Format Penulisan Penelitian Kuantitatif Serta Unsur-Unsurnya

Format Penulisan Penelitian Kuantitatif Serta Unsur-UnsurnyaDesain penelitian merupakan kombinasi atau elaborasi antara tujuan penelitian dan unsur-unsur penelitian, atau gabungan dari suatu desain dengan desain yang lain. Sedangkan model penelitian adalah gambaran (abstraksi) metodologis yang dianggap mewakili kerangka berfikir tertentu tentang sasaran penelitian, baik unsur-unsur, ciri-ciri, sifat-sifat obyek, hubungan antar konsep atau variabel, maupun “sesuatu” yang dapat diramalkan terjadi.

Format penelitian kuantitatif beserta unsur-unsurnya, misalnya :
  1. Judul Penelitian
  2. Latar Belakang masalah
  3. Perumusan Masalah
  4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
    a. Tujuan Penelitian
    b. Kegunaan Penelitian
  5. Kerangka Pemikiran (Kerangka Teori)
  6. Hipotesis (kalau ada)
  7. Metodologi Penelitian :
    a. Tipe/Sifat penelitian
    b. Metode Penelitian
    c. Populasi dan sampel
    d. Operasionalisasi Konsep
    e. Tekhnik Pengumpulan Data
    f. Pengumpulan data dan tabulasi data
    g. Analisis Data
  8. Penulisan Laporan
Format Penulisan Penelitian Kuantitatif Serta Unsur-Unsurnya_
image source: factsnfiguresinc.com
baca juga: Menentukan Topik dan Proses Penelitian Ilmiah Metode Penelitian

Penjelasan singkat:

1. Judul Penelitian

Judul seharusnya singkat, jelas, padat, logis, mengambarkan isi, memuat variabel yang diteliti, tipe/jenis metode dapat diketahui, kalau judul lebih dari 12 kata atau lebih dapat dibuat anak judul dsb. Dalam penelitian kuantitatif apakah yang akan kita teliti dapat dikonseptualisasikan, apakah tidak kesulitan referensi teoritik, prediksi berbagaimana konsekuensi yang berkaitan dengan kecukupan waktu, biaya, tenaga, ada/tidak kesulitan dalam mengakses data, kalau melibatkan lembaga boleh tidak melakukan penelitian di lembaga tersebut dsb.

2. Latar Belakang Masalah
Latar belakang berisi tentang fenomena/gejala-gejala yang berkaitan dengan obyek yang diteliti. Gejala-gejala yang ada seperti apa ? Bagaimana hubungan atau pengaruh antar gejala yang dapat ditangkap seperti apa-gambarannya seperti apa? Unsur, Ciri, sifat-sifat (karakteristik) obyek yang diteliti seperti apa ? Mengapa mengambil obyek penelitian itu tidak obyek yang lain ? Mengapa bagian obyek itu yang menarik dibanding bagian yang lain dari onyek itu ? Gejala tersebut dapat didukung dengan data-data atau hasil penelitian orang lain. Situasi dan kondisi seperti apa sehingga sehingga timbul pokok masalah seperti itu. Mengapa meneliti di tempat itu-tidak ditempat lain? Apa yang diteliti atau pokok masahnya ? Mengapa pokok masalah itu menarik/layak untuk diteliti dibandingkan pokok masalah yang lain ? dan sebagaimana.

3. Perumusan Masalah / Pokok Permasalahan
Masalah merupakan kesenjangan antara harapan (das Sollen) dan kenyataan (das sains), kesenjangan antara rencana dengan hasil, nilai-norma yang berlaku dengan kenyataan kehidupan sehari-hari, dan masalah inilah yang akan dicari jawabnya/dicari pemecahanya. Berdasarkan pokok masalah tersebut disusun pertanyaan-pertanyaan penelitian secara sistematis􀃎 perumusan masalah. Sedangkan dalam penelitian kualitatif lebih dikenal sebagai fokus penelitian (fokus penelitian dapat menjadi satu dengan perumusan masalah, atau terpisah perumusan masalah dikemukakan baru dikemukakan fokus penelitian).

Dalam sebuah penelitian, problematika merupakan kunci dari kegiatannya. Dari problematika penelitian inilah tujuan penelitian, hipotesis, populasi dan sample, teknik untuk mengumpulkan dan menganalisis data ditentukan. Problematika penelitian merupakan pertannyaan yang dijadikan tonggak bagi peneliti dengan tegas mengemukakan problematika, terlebih dahulu harus memberikan batasan.
Batasan pengertian adalah bagian dari proposal maupun laporan penelitian tempat peneliti memberikan penjelasan kepada orang tentang hal-hal yang berkenaan dengan kegiatan penelitiannya. Pentingnya peneliti memberikan penjelasan tentang pengertian ini adalah agar orang lain yang berkepentingan dengan penelitian tersebut mempunyai persepsi yang sama dengan peneliti.

Sedangkan batasan masalah, untuk sampai ke tahapan tersebut peneliti terlebih dahulu harus mencoba mendaftar sebanyak-banyaknya masalah yang menjadi ganjalan di alam pikirannya, yang sekiranya dapat dicarikan jawabannya melalui kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Tahap ini dinamakan tahap identifikasi masalah. Dari banyak masalah-masalah  yang berhasil didaftar atau diidentifikasikan tersebut, dengan menyesuaikan diri pada keterbatasan – keterbatasan yang dimiliki, peneliti hanya memilih satu atau beberapa masalah yang dipandnag penting dan berguna untuk dicarikan pemecahannya.

Secara urut maka tahap penelitian dalam memilih masalah penelitian adalah sebagai berikut:
  1. Peneliti merasakan ada ganjalan dalam pikirannnya. Peneliti merasakan adanya masalah yang perlu dipecahkan melalui penelitian.
  2. Peneliti mencoba mendaftar sebanyak-banyaknya masalah yang dapat dicari jawabannya melalui penelitian (identifikasi masalah).
  3. Peneliti memilih satu atau lebih masalah yang akan dicari jawabannya melalui penelitiannya (batasan masalah)

Pokok permasalahan berisi substansi dari permasalahan yang akan dikaji. Perumusan masalah membantu pembaca untuk mengetahui dengan jelas/mudah, permasalahan yang sedang menjadi perhatian peneliti. Merumuskan masalah dengan cara menjabarkannya menjadi pertanyaan-pertanyaan pokok yang akan dicari jawabannya. Beberapa hal dibawah ini menjelaskan hal tersebut:
  1. Merupakan permasalahan di bidang Ilmu Komunikasi menyangkut bidang Public Relations, Broadcasting, Marketing Communication dan Visual Communication. Beberapa contoh permasalahan berikut yang ‘biasanya’ tercermin dalam “Judul/Topik Permasalahan Skripsi”:
Broadcasting:
  • Fungsi kontrol Media Massa
  • Gratifikasi orientasional pada khalayak pemirsa siaran TV Global (Studi Uses and Gratification Khalayak Pemirsa CNN di Jakarta)
Public Relations:
  • Penggunaan Special Event dalam mempertinggi citra perusahaan (kasus Panasonic Gobel).
  • Manajemen krisis Kehumasan Bom Bali atas wisatawan asing
Advertising:
  • Hubungan antara pesan-pesan atraktif dengan perubahan Sikap (studi eksperimental iklan kampanye partai politik pada pemilu 2004 )
  • Analisa Wacana Iklan kampanye partai PDI Perjuangan pada Pemilu 2004.

  1. Permasalahan dirumuskan secara jelas dan pada akhirnya terfokus pada suatu “inti permasalahan”. Inti permasalahan biasanya diformulasikan dalam bentuk“statemen/pertanyaan”.
Lihat contoh berikut:
  • Bagaimana Kompasiana mengungkapkan kontrol sosialnya berdasarkan sistem pers yang berlaku saat ini?
  • Apakah terdapat hubungan antara karakteristik dan terpaan media dengan motivasi dan gratifikasi orientasional pada pemirsa CNN?
  • Bagaimana Deparsenibud menangani manajemen krisis Bom Bali?
  • Bagaimana pesan-pesan yang mengandung unsur aktraktif dapat merubah sikap berdasarkan faktor kepercayaan dan evaluasi mereka pada iklan kampanye partai politik?
  • Bagaimana wacana iklan kampanye PDI Perjuangan?

Pada intinya peneliti akan melakukan keinginan untuk meneliti karena merasa mempunyai “ganjalan problematika”, untuk itu harus dipertimbangkan beberapa hal:
  1. Permasalahan tersebut harus sesuai dengan bidang ilmu yang sudah dan atau sedang dialami. Dalam khasanah keilmuan dikenal adanya peta keahlian (expertice). Untuk dapat melaksanakan kegiatan penelitian dengan baik, seseorang harus menguasai dua hal: yaitu materi (substance) dari bidang ilmu yang akan diteliti dan teknik atau metodologi untuk melakukan penelitiannya dengan baik dan benar. Dengan memilih permasalahan penelitian yang sesuai dengan bidang ilmu yang digeluti, maka sudah terpenuhi sekurang-kurangnya satu dari persyaratan bagi peneliti.
  2. Permasalahan yang dipilih harus sesuai dengan minat calon peneliti. Kegiatan penelitian bermula dari menyusun proposal yang menuntut ketelitian, kecermatan dan kesabaran yang tidak kecil dari pelakunya.
  3. Permasalahan yang dipilih harus penting dalam arti mempunyai kemanfaatan yang luas. Seperti pada umumnya kegiatan penelitian menuntut tenaga, pikiran, biaya dan waktu dari peneliti yang tidak sedikit. Oleh karena itu hasilnya harus memadai, paling tidak harus seimbang dengan semua hal yang telah dikorbankan untuk itu.
  4. Permasalahan penelitian harus dapat ditangani oleh peneliti. Banyak diantara calon peneliti berkeinginan untuk memilih permasalahan yang sesuai dengan bidangnya serta sangat menarik perhatian peneliti tersebut.

Suatu hal penting dalam penelitian adalah menentukan masalah.
Masalah merupakan tahap yang paling sulit, sehingga dapat mengganggu perkembangan aktifitas penelitian yang akan dilakukan.

1. Beberapa Karakteristik Masalah :
  1. Pemilihan topik/judul menarik
  2. Pemecahan masalah harus bermanfaat bagi orang-orang yang berkepentingan dalam bidang tertentu.
  3. Masalah yang dikemukakan merupakan sesuatu hal yang baru.
  4. Mengundang rabcangan yang lebih kompleks.
  5. Dapat diselesaikan sesuai waktu-waktu yang diinginkan.
  6. Tidak bertentangan dengan moral.

2. Keterampilan dalam mengidentifikasi masalah :
  1. a) Bacalah literature yang berhubungan bidang yang akan diteliti dan bersikap kritis.
  2. b) Hadiri kuliah/ceramah professional.
  3. c) Mengadakan pengamatan/kejadian yang ada disekitar kita.
  4. d) Memikirkan kemungkinan penelitian dengab topik-topik/materi perkuliahan.
  5. e) Mengadakan penelitian kecil dan mencatat hasil atau temuan yang diperoleh.
  6. f) Menyusun penelitian dengan penekanan pada isi dan metodologinya.
  7. g) Kunjungi berbagai perpustakaan untuk memperoleh topik yang akan diteliti.
  8. h) Berlangganan jurnal/majalah yang berhubungan bidang yang diteliti.
  9. i) Mengumpulkan bahan yang berhubungan dengan bidang yang diteliti.

4. Tujuan Penelitian
Dari inti permasalahan tersebut, kemudian dioperasionalisasikan atau dijabarkan dalam “Tujuan Penelitian” yang secara eksplisit memberikan gambaran tentang aspek-aspek yang akan digali dalam penelitian.

Apabila dalam pernyataan permasalahan masih bersifat abstraksi, maka dalam tujuan penelitian lebih bersifat operasional dan terukur (measureable).
Tujuan Penelitian Tidak jarang antara maksud penelitian dan tujuan penelitian dianggap sama. Secara ringkas, Maksud Penelitian adalah “apa yang ingin diketahui oleh peneliti”, sedangkan Tujuan Penelitian adalah “ apa yang hendak diperoleh setelah melakukan penelitian”, pemecahan masalah seperti apa yang hendak diperroleh.
Misalnya : mengetahui faktor-faktor, mendiskripsikan gejala, membandingkan rata-rata, mengetahui hubungan, menguji/menjelaskan pengaruh, mengevaluasi, membandingkan pengaruh, menemukan cara,... dan sebagainya, untuk penelitian kualitatif menemukan model/pola, menemukan teori substantif, memperoleh pemahaman .. dan sebagainya.

5. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian pada dasarnya adalah informasi tentang sesuatu yang disebutkan dalam tujuan penelitian, bukan produk fisik atau bagian dari kegiatan penelitianya itu sendiri. Sedangkan yang dikategorikan sebagai pihak-pihak yang memanfaatkan hasil penelitian adalah pihak yang dapat disebutkan secara jelas.

Kegunaan Penelitian berkaitan dengan kegunaan pengembangan keilmuan (Ilmu Komunikasi, Humas, Marcom dsb) dan kegunaan praktis lainnya (Misalnya : perusahaan, Humas Pemerintah, praktisi humas, peneliti berikutnya dll)

Sekian artikel tentang Format Penulisan Penelitian Kuantitatif Serta Unsur-Unsurnya. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
  1. Beer, Jennifer, Intercultural Communication at Work, Washington, 1997.
  2. Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.
  3. Rumondor, Alex dkk, Komunikasi Antarbudaya, Universitas Terbuka, Jakarta, 1996.
  4. Mulyana, Deddy, Komunikasi Efektif; Suatu Pendekatan Lintasbudaya, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.