Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laporan Keuangan dan Konsekuensi Langkah Pengembangan Usaha

Laporan Keuangan dan Konsekuensi Langkah Pengembangan Usaha - Perusahaan tumbuh dan berkembang seiring dengan bertambahnya permintaan. Konsekuensi yang akan terjadi terhadap berbagai aspek pengelolaan usaha, termasuk terhadap kondisi keuangannya.

Melalui artikel ini diharapkan dapat memahami Laporan Keuangan Dan Bagaimana Konsekuensi Langkah-Langkah Strategis Pengembangan Usaha Terhadap Laporan Keuangan.
baca juga:
Laporan Keuangan dan Konsekuensi Langkah Pengembangan Usaha_
image source: www.wikihow.com

Perubahan yang dialami  perusahaan setelah diluncurkan

Setelah diluncurkan, sebagian perusahaan gagal  dan sebagian lagi masih dapat meneruskan operasinya. Yang gagal dapat disebabkan karena tidak berhasil mendapatkan keuntungan sehingga terpaksa ditutup; atau tidak berhasil mencapai titik impas (kembali modal) sehingga ditutup secara sukarela (kalau diteruskan titik impas mungkin akan dapat dicapai dalam periode mendatang).

Gbr 1.1. Perkembagan perusahaan setelah diluncurkan

Sedangkan yang berhasil dapat tumbuh dan berkembang terus atau berada terus dalam ukuran yang sama sebagai perusahaan gaya hidup atau perusahaan keluarga.

Setelah berhasil menjalankan usaha, pemilik perusahaan memiliki pilihan : 1) menjual; 2) mempertahankan ; 3) menumbuhkannya (lihat Gbr 1.2)

Gbr 1.2 Pilihan-pilihan bagi perusahaan dan pemilik-pendiri setelah usaha diluncurkan 
  • Kalau pilihannya menjual, pemilik-pendiri dapat : 1) masih berada dalam perusahaan sebagai pegawai/manajer; 2) Memulai mendirikan perusahaan lain; 3) Mencari pekerjaan lain.
  • Kalau pilihannya mempertahankan, pemilik-pendiri dapat : 1) menjadi manajer ; 2) meninggalkan manajemen sehari-hari (dengan mendelegasikan wewenang kepada manajer).
  • Kalau pilihannya menumbuh kembangkan, pemilik-pendiri dapat: 1) menjadi pemimpin berjiwa wirausaha; 2) Mengambil kedudukan yang lain dalam perusahaan; 3) meninggalkan manajemen sehari-hari.

Tahap-tahap perkembangan perusahaan

Dilihat secara kronologis, perusahaan yang diluncurkan mengalami beberapa fase dalam proses menuju kestabilan, tumbuh dan berkembang (Lihat tabel 1.1).

1. Fase  awal
  • Dalam tahap awal usaha kecil baru, penekanan ditujukan  terutama  untuk  kelangsungan  hidup  dan  mencapai  titik impas (kembali modal)  sebelum modal  kerja habis.
  • Tujuan pendiri-wirausahawan adalah untuk mengurangi  keterdedahan (exposure) keuangan pribadi dan juga keinginan mencapai dan mewujudkan 
  • Kecenderungan pada tahap ini adalah menerima keuntungan seberapa saja, walaupun kecil, dalam rangka  menutupi biaya tetap. Perusahaan dapat mengalami  persoalan untuk mendapatkan laba yang memadai.
  • Keputusan manajemen umumnya bersifat operasional dengan dasar supaya mendapatkan pengembalian modal dalam jangka pendek. Pemikiran strategis sedikit atau tidak ada.
  • Karena belum memiliki staf/pegawai, pemilik yang juga merangkap manajer berkerja dalam waktu yang panjang dan dapat mengakibatkan kinerja perusahaan tidak optimal, karena segala urusan dikerjakan sendiri.

Tabel 1.1 Tahap-tahap perkembangan sebuah perusahaan  dan proses pengambilan keputusan
Fase Durasi Tujuan usaha Proses pembuatan keputusan
Pemula 6 hingga 3 tahun Mencapai titik impas sebelum modal habis Operasional
Fokus jangka pendek
Kestabilan relatif 1 hingga 2 tahun Konsolidasi
Tinjauan dan perbaikan proses operasi
Peralihan dari operasional ke taktis
Strategi belum banyak
Tumbuh dan berkembang Berlangsung dari saat ini hingga ke masa depan Perluasan  yang terencana untuk meningkatkan pangsa pasar, penjualan dan laba
Pertumbuhan modal
Terutama strategis dan taktis
Keputusan  operasional semakin didelegasikan ketika usaha tumbuh

2   Fase kestabilan relatif
  • Begitu titik  impas terlewati,  pemilik yang merangkap manajer lega. Sekarang  muncul saat kestabilan dan konsolidasi  dalam usaha.  Kebanyakan  wirausahawan  yang bersemangat  akan berupaya  untuk tumbuh lebih  besar lagi.
  • Peninjauan ulang proses usaha pada tingkat operasional.
  • Pemilik-manajer sangat peduli untuk meningkatkan laba,  mengurangi  biaya operasi dan  pemborosan,  dan  mampu  menentukan mana pelanggan yang perlu dipertahankan dan mana yang harus ditolak.
  • Penekanan terhadap kelangsungan hidup berkurang, tetapi lebih ditekankan pada peningkatan laba dan pengurangan keterdedahan terhadap keuangan pribadi.
  • Pemilik-manajer berusaha memaksimalkan pengembalian dari modal yang diinvestasikan, ditambah dengan premi (jumlah lebih) sebagai imbalan dari upaya pribadi yang dihabiskan  untuk  melakukan   
  • Fokus juga ditekankan pada pemuasan kebutuhan pelanggan untuk menjamin dapat dipertahankannya pelanggan, dan juga pada peningkatan mutu barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan.
  • Fokus juga beralih pelan-pelan dari pemikiran operasional ke taktis. Tetapi ketika keinginan tumbuh dan berkembang muncul, pemikiran juga beralih ke strategis.
  • Pada tahap ini ada pemilik-manajer yang merasa nyaman (zona nyaman), terutama yang keuangannya stabil, sehingga ada yang memilih untuk tidak tumbuh dan berkembang, (cukup apa  adanya). Pemilik pendiri mempertahankan usahanya sebagai perusahaan perusahaan gaya hidup atu perusahaan keluarga.

3   Fase tumbuh dan berkembang
  • Fase ini meliputi  ekspansi yang terencana  untuk  meningkatkan pangsa pasar,  penjualan,  laba  dan modal.
  • Seiring dengan bertambahnya SDM  melalui  perekrutan  baru, terjadilah perubahan dalam praktek  manajemen  yaitu meningkatnya pendelegasian wewenang dari pemilik-pendiri kepada  manajer bawahannya.
  • Pembuatan keputusan  oleh pemilik-manajer semakin bersifat strategis  dan taktis. Keputusan  yang bersifat operasional semakin  didelegasikan  kepada  manajer yang  berada di bawahnya.
  • Dalam fase ini sangat diperlukan adanya perubahan  budaya UKM  dan sikap  pemilik-manajer  untuk bergeser dari   hanya membuat  keputusan  taktis  dan  operasional sehari-hari  ke arah perencanaan strategis untuk usaha  di masa 

Keputusan strategis vs taktis vs operasional

Contoh  keputusan bersifat strategis  (implikasi jangka panjang dan keberadaan  perusahaan)
  • Tinjauan ulang usaha
  • Mengembangkan rencana usaha
  • Rencana untuk meningkatkan pejualan dan pemasaran
  • Eksplorasi pasar di luar negeri
  • Membuat perubahan untuk meningkatkan usaha
  • Rencana untuk meningkatkan keuangan usaha
  • Tinjauan ulang keadaan staf, dll.

Contoh  keputusan  bersifat  taktis (implikasi jangka pendek dan menengah)
  • Menjaga pelanggan
  • Meningkatkan pelayanan kepada pelanggan
  • Mendapatkan tempat yang bagus untuk berusaha.
  • Membagun situs untuk perdagangan-e
  • Berupaya supaya  pelanggan membayar lebih cepat
  • Menilai resiko  di tempat  kerja, dll.

Contoh  keputusan  bersifat operasional (sehari-hari)
  • Menjual produk kepada  pelanggan
  • Melayani keluhan  pelanggan
  • Memilih dan  menggunakan  program komputer
  • Meningkatkan pengelolaan waktu dan keahlian  pendelegasian
  • Membantu staff untuk  belajar  hal  baru
  • Memindahkan staf  ke tugas lain atau memberhentikannya dari tugas tersebut, dll.

Pertumbuhan perusahaan
  • Perusahaan tumbuh  karena  semakin bertambahnya  permintaan  terhadap    Dari waktu ke waktu penjualan yang berhasil dilakukan semakin besar.
  • Pemilik perlu    menambah    tenaga  kerja, peralatan   modal,  perluasan  tempat usaha,  dan  aset-aset 
  • Untuk keperluan  tersebut  perusahaan  perlu mencari   tambahan   dana   misalnya  dengan meminjam  (menambah  hutang)  atau  menginjeksikan  modal 
  • Tanpa upaya menambah aset,  UKM   tidak mampu melayani  pertambahan permintaan dan ukuranya tetap   saja   kecil  seperti   ketika  

Perkembangan  perusahaan
  • Sering terjadi perusahaan  juga  berusaha  secara  proaktif   memperluas  pasar   (mencari  pelanggan  baru,   memperkenalkan produk  baru,   memasuki   kawasan  geografis   lain,  memasuki   usaha  baru, dll.).
  • Dengan cara   ini   perusahaan  berkembang   baik   dalam  kawasan   geografis  dalam satu  negara  atau   ke luar    Ini   adalah   langkah   awal   internasionalisasi  untuk   menjadi   perusahaan   multinasional atau global.

Keputusan  keuangan yang  dihadapi  perusahaan

Ketika perusahaan tumbuh dan berkembang, hal-hal yang perlu dipertanyakan yang menyangkut dengan keuangan a.l. yaitu:
  • Apakah investasi    akan   berhasil?
  • Dari mana  dana  untuk  membiayai  investasi berasal ?
  • Apakah perusahaan  memiliki  kas  (dana  tunai)  yang   cukup   atau   akses   ke  kas  -  misalnya   pinjaman  dari bank -  untuk  memenuhi  kebutuhan  operasional  sehari-hari?
  • Pelanggan mana  yang  perlu  diberikan  kredit,  dan   berapa   besar  yang  perlu  ditawarkan?    
  • Seberapa banyak  seharusnya  persediaan  dipegang?
  • Apakah penggabungan   (merger)  dan  pengambilalihan  (akuisisi)  dapat  dilaksanakan?
  • Bagaimana seharusnya   aliran  kas  didistribusikan?   Apa  kebijakan  dividen  yang   optimal? (Berapa yang dibagi dan  berapa  yang tinggal dalam perusahaan).

Indikator  keuangan yang perlu dicek secara rutin
  • Laporan keuangan  berfungsi   seperti   instrumen  yang ada  di  papan   kendali  kemudi    untuk  melihat   seberapa  baik   kenderaan   berfungsi   seperti   yang diharapkan.
  • Laporan keuangan   adalah   alat   untuk melihat   apakah   perusahaan   berjalan  secara  

1. Indikator yang perlu dicek setiap hari.
  • Saldo kas harian
  • Saldo kas di bank
  • Jumlah penjualan dan penerimaan dalam   bentuk  kas.
  • Catatan setiap masalah yang berkaitan dengan penagihan (pengumpulan) kas dari penjualan secara kredit
  • Catatan setiap pengeluaran uang.

2. Indikator yang perlu diperhatikan setiap minggu
  • Arus kas.  Perbaharui   tabel  catatan  penerimaan   dan  pengeluaran      Upaya  ini   akan   membantu   untuk  melihat  apa  yang   terjadi  di  dalam  perusahaan  dan   membantu   mengatasi masalah   kekurangan  kas.
  • Piutang jangka  pendek.  Perlu  diperhatikan,   khususnya    yang   pelunasannya 
  • Hutang jangka pendek. Diperhatikan potongan yang ditawarkan, apabila dilunasi sebelum jatuh tempo.
  • Upah/ gaji. Hitung   jam   yang   terakumulasi   dan   upah   yang   
  • Pajak. Catat   kapan  pajak  jatuh  tempo,   dan  laporan apa  yang 

3. Indikator yang perlu diperhatikan setiap bulan
  • Jika digunakan jasa akuntansi dari luar, sediakan catatan penerimaan, pengeluaran, laporan rekening bank, dan jurnal.
  • Kaji ulang laporan laba rugi
  • Kaji neraca
  • Rekonsiliasi rekening cek (di bank, mencocokkan antara cek yang keluar dengan kas)
  • Hitung rekening kas kecil
  • Kaji keperluan pembayaran pajak dan buat deposit.
  • Kaji piutang dan umur piutang.

Analisa laporan keuangan
  • Pemilik perusahaan  perlu  mengetahui   dampak  keuangan (positif  atau  negatif)   dari  setiap  keputusan  manajemen,  mengingat  dampak  dari  keputusan tersebut  suatu  saat  akan  mempengaruhi   laporan keuangan  perusahaan ( laba  atau rugi). Semakin  cepat dampak tersebut diketahui, semakin baik, guna  menghindari  masalah yang lebih parah  atau untuk  mempercepat penyelesaiannya.
  • Laporan keuangan    perlu  dianalisa  lebih  lanjut  untuk  mendapatkan  gambaran  yang  rinci   tentang  kinerja 
  • Hasil analisa  tersebut  dibandingkan  dengan  periode  sebelumnya   untuk melihat  sejauh mana  kemajuan  telah  dibuat.
  • Atau dibandingkan  dengan  kinerja rata-rata  industri (perusahaan  yang  bergerak  dalam bidang yang sama)  untuk  melihat sejauh  mana  perusahaan  memiliki  keunggulan  dibandingkan   dengan  para  pesaingnya.

1. Empat isu  dari  laporan  keuangan

Ada  4   isu   penting yang   perlu  dikaji   dari laporan  keuangan   yaitu :
  1. Dapatkah perusahaan  membayar tagihan  ketika  jatuh  tempo?  Apakah   perusahaan memiliki   kapasitas  untuk  memenuhi  komitmen  keuangan  jangka  pendek (kurang dari  satu  tahun)?
  2. Apakah usaha  tersebut dapat   memberikan  tingkat  pengembalian  yang   bagus  terhadap   aset?
  3. Berapa banyak  hutang   yang digunakan  oleh  perusahaan,  dibandingkan dengan  pembiayaan  melalui  modal?
  4. Apakah pemilik  memperoleh  tingkat  pengembalian  modal  yang  baik   terhadap  investasi  modal mereka,  ke dalam  perusahaan? 

Contoh  rasio  keuangan

Laporan  keuangan   Trimble & Associates Leasing, Inc.
Laporan  Laba Rugi ,  tahun 2007

Catatan  laba rugi
Sales : penjualan
Cost of good sold: Harga pokok penjualan
Gross profit  on sales :   laba  kotor dari penjualan
Operating expenses: pengeluaran (biaya) operasi
Marketing expense :  pengeluaran  pemasaran
General and administrative expense :  pengeluaran  umum dan administrasi
Depreciation expense :
pengeluaran depresiasi
Total operating expense : pengeluaran  operasi total
Operating income : penghasilan operasi
Interest expense : pengeluaran bunga
Earning before taxes :  pendapatan sebelum pajak
Income tax : pajak penghasilan
Net income : penghasilan bersih (laba  bersih)


Trimble & Associates Leasing, Inc
Neraca  pada  tanggal 31 Des  2007


Catatan neraca
Current asset  :aset lancar
Account receivable : piutang
Inventories : persediaan /stok
Fixed asset : aset tetap
Debt (liabilities) : hutang (kewajiban)
Current liabilities : kewajiban (hutang ) lancar
Account payable : hutang (dari  pembelian)
Short-term notes : hutang jangka pendek
Long term debt : hutang jangka panjang
Owner’s equity :  modal pemilik
Common stock : saham biasa
Retained earning : pendapatan yang ditahan (dividen yang tidak dibagikan)
Total ownership equity :  modal yang dimiliki total

2. Dapatkah perusahaan  membayar hutang ketika  jatuh tempo ?

Pertanyaan  dijawab  dengan dua cara :

1.) Dengan cara membandingkan  aset perusahaan yang  jenisnya relatif cair (mudah diuangkan) dengan  hutang  yang akan jatuh tempo  dalam  jangka  pendek,  yaitu :

Rasio  lancar =  Aset lancar/Hutang lancar
                           = USD 350.000/ USD 100.000 = 3,5

Aset  lancar  perusahaan dapat  menutupi  3,5 kali lipat  hutang  lancarnya.  Menurut kebiasaan, nilai 2,7 merupakan rata-rata perusahaan yang berada dalam industri yang  sama. Indikator  ini  bagi perusahaan Trimble & Associates Leasing  berada di atas  rata-rata  industri.

2.)  Dengan cara melihat  kecepatan   aset  lancar terutama   piutang dan  persediaan yang  berhasil diubah menjadi kas.  Melalui cara  ini dapat dilihat sejauh mana kecepatan perusahaan menagih piutang dan mengubahnya menjadi kas.

Kalau dianggap semua  penjualan  adalah  secara kredit maka:

Perputaran  piutang           = Penjualan secara  kredit / Piutang
                                                  = USD 850.000/USD 80.000
                                                  =  10,63 hari.

Kecepatan mengubah  piutang  menjadi  kas  adalah 10,63 hari. Semakin  cepat  indikator   ini  semakin  baik, artinya semakin cepat penagihan piutang yang dilakukan.  Rata-rata industri  adalah 10,4 hari.  Jadi, perusahaan  Trimble  setara dengan perusahaan  lain dalam industri yang sama.
Untuk  melihat  kemampuan perusahaan  mengubah   persedian  menjadi  kas,  digunakan rumus :
Perputaran persediaan = Biaya  pokok  penjualan / Persediaan
                                         = USD 550.000/ USD 220.000 = 2,50
  • Rata-rata industri adalah 4,0. Ini berarti perusahaan Trimble terlalu  banyak  menyimpan  persediaan.  Perusahaan  Trimble  hanya menciptakan USD 2,5 untuk setiap  USD 1 persediaan, sedangkan  perusahaan  lain dalam  industri  mampu menciptakan  USD 4 untuk setiap  USD 1 persediaan. Persediaan  yang tidak bergerak cepat, menandakan penggunaan aset yang kurang maksimal.

3. Apakah  usaha  mendatangkan pengembalian yang  baik  terhadap  asetnya ?

Pemilik  perusahaan  dan  investor  ingin  mengetahui   apakah  laba  operasi   cukup   dibandingkan dengan  aset  yang  diinvestasikan  di  dalam  perusahaan.  Rumusnya yaitu:

Pengembalian  terhadap  aset = penghasilan  operasi / aset total
                                                   = USD 100.000/USD 920.000 = 0,1087 = 10,87%

Kinerja Trimble berada di bawah rata-rata industri yaitu 13,2%.  Setiap  USD  1  aset  yang  diinvestasikan,  perusahaan  Trimble  menciptakan  pengembalian  modal   yang  lebih rendah   dibandingkan   dengan perusahaan  lain  dalam  industri.

Pemilik  Trimble  ingin mengetahui lebih mendalam  mengapa  kinerja  Trimble  lebih rendah  dari  perusahan  lain. Indikator pengembalian  terhadap  aset, dibagi ke  dalam  dua  komponen : (1) margin laba operasi (operating profit margin); (2) perputaran  aset  total  (total asset turnover).


Margin  laba  operasi  =  Laba  operasi / penjualan

Persamaan  ini  menunjukkan  sebaik  mana perusahaan  mengelola  operasinya,  seperti  yang  terungkap  dari  laporan  laba  rugi.


Kinerja  perusahaan  Trimble lebih kurang sama dengan  rata-rata  industri  yaitu  11,0%.

Ada  lima  faktor  (kekuatan  pendorong)  yang  mempengaruhi  margin  laba  operasi, dan   akhirnya pengembalian terhadap  aset.
  1. Jumlah unit  produk yang dijual (volume)
  2. Harga rata-rata per unit produk (harga penjualan)
  3. Biaya  fabrikasi  atau biaya perolehan produk (harga pokok penjualan)
  4. Kemampuan  mengendalikan  biaya  umum  dan administrasi  (pengeluaran  [biaya] operasi)
  5. Kemampuan  mengendalikan  biaya   pemasaran dan  distribusi   (pengeluaran [biaya] operasi).

Komponen  kedua  dari   pengembalian  terhadap  aset  adalah  perputaran  aset  total,  yang menunjukkan  sejauh mana manajemen  menggunakan  secara  efisien  aset  perusahaan  untuk  menciptakan  penjualan, seperti ditunjukkan  dalam  neraca.

Jika Perusahaan A dapat  menciptakan penjualan USD 3 untuk   setiap  USD 1 aset, sementara Perusahaan  B  hanya  dapat  menciptakan  USD 2  untuk   setiap   USD 1  aset,  maka Perusahaan  A  menggunakan  asetnya  lebih  produktif   dari  Perusahaan B.

Perputaran aset total  adalah  penentu  utama  dalam   pengembalian terhadap  aset (atau  pengembalian terhadap investasi)


Untuk  perusahaan  Trimble,  perputaran  aset  total  (total asset  turnover)  adalah :
Kebiasaan  yang berlangsung  dalam industri  adalah 1,20.  Jadi  Trimble hanya dapat menciptakan USD 0,92 dari setiap USD 1  aset, sedangkan  perusahaan lain  mampu  menciptakan USD 1,2  untuk setiap  USD 1  aset.


Akhirnya,  diperoleh nilai pengembalian  terhadap aset  perusahaan Trimble  yaitu 10,82%
Sementara itu,  pengembalian  terhadap aset di perusahaan-perusahaan  dalam industri  mencapai  13,2%.  Jadi, kinerja Trimble lebih  rendah  dari  rata-rata  industri.

Gbr. 1.3   Langkah-langkah menghitung tingkat pengembalian terhadap aset
  • Dalam hal persaingan,  (menekan biaya  dan pengeluaran  relatif terhadap penjualan) Trimble setara  dengan  perusahaan  lain,  dimana  margin laba operasi  adalah  11,78 %  vs 11,0%.
  • Namun, dalam hal  perputaran aset, Trimble tidak dapat menggunakan aset secara  efisien, kinerja Trimble lebih  buruk, yaitu 0,92  vs 1,20.
  • Akhirnya, indikator di atas berimbas  pada pengembalian  terhadap  aset  yaitu  10,82%   vs  13,2%.
Kinerja  yang rendah dalam hal perputaran  aset tersebut dianalisa  lagi  dengan melihat aset mana yang menjadi sumber ketidakefisienan.

Satu lagi indikator yang digunakan  yaitu  perputaran  aset  tetap (fixed asset turnover)  yang  mengukur hubungan antara penjualan dan  aset tetap.

Perputaran aset  tetap =  Penjualan/ aset tetap netto

Rasio  perputaran  aset  perusahaan Trimble  yaitu :

  • Data ini  menunjukkan  bahwa  Trimble  kurang efisien dalam  penggunaan  aset  untuk  menciptakan  penjualan (persediaan terlalu banyak dan investasi berlebihan dalam aset tetap).

4. Berapa  banyak hutang yang digunakan untuk membiayai aset?

Penggunaan  hutang  (pengungkit  keuangan/ financial  leverage)  dapat  meningkatkan  tingkat  pengembalian modal terhadap  modal  pemilik.

Namun, penggunaan  hutang  akan beresiko  pada  kemampuan membayar  bunga dan cicilan pembayaran  hutang.

Indikator  yang digunakan  adalah :

Rasio  hutang = Hutang  total/ aset
                         = USD 300.000/USD 920.000 = 0,33=33%

Untuk Trimble,  ini  berarti  bahwa   33% dari  aset  dibiayai dengan hutang. Sedangkan industri  secara  rata-rata  mencapai 40%.

Karena  berhutang, perusahaan  harus membayar bunga. Kemampuan pembayaran bunga  dengan  laba operasi  perusahaan,  dapat dilihat  dengan :

  Rasio kelipatan bunga (times interest earned)  =  Penghasilan  operasi / pengeluaran bunga
                                                                                          =   USD 100.000/USD 20.000 = 5,0

Yang menunjukkan  penghasilan operasi perusahaan  Trimble  lima kali lipat  lebih besar  dari jumlah pembayaran bunga.

Kebiasaan  yang berlaku dalam industri adalah 4,0. Jadi  perusahaan Trimble memiliki kemampuan lebih baik dalam hal pembayaran bunga.  Indikator ini juga menunjukkan  kapasitas  berhutang  sebuah perusahaan (semakin kecil semakin memburuk).

5. Apakah pemilik perusahaan mendapatkan pengembalian yang baik  terhadap  investasi  modal  mereka?

Pemilik perusahaan (pemilik saham)  juga ingin  melihat  apakah  pendapatan perusahaan yang diperuntukkan  untuk pemiliknya  menarik jika dibandingkan dengan perusahaan lain.  Indikator yang digunakan  yaitu :

           Pengembalian terhadap  modal pemilik = Penghasilan bersih / Modal pemilik
                                                                               = USD 60.000 / USD 620.000
                                                                               = 0,097 atau 9,7%

Kebiasaan  dalam industri adalah 12,5%. Jadi  pemilik Perusahaan Trimble  tidak  memiliki tingkat pengembalian  yang  memadai  terhadap modal yang diinvestasikan  dibandingkan  dengan perusahaan lain.

Gbr 1.4  Langkah untuk menghitung tingkat pengembalian terhadap modal pemilik 
Catatan kritis
  • Laporan keuangan  adalah  catatan  keuangan   yang menggambarkan masa lalu  (sudah terlewati) yang   sering  hanya  sedikit   dapat  memperkirakan  masa depan.
  • Indikator yang muncul dari laporan keuangan dapat  digunakan untuk memperbaiki keadaan dan  tidak mengulangi kesalahan yang sama. 
  • Untuk keberhasilan  usaha,  juga  dibutuhkan   visi  ke depan  kemana  usaha  akan diarahkan.

Sekian artikel tentang Laporan Keuangan dan Konsekuensi Langkah Pengembangan Usaha. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
  • Barringer, B.R., dan Ireland, R.D., 2012, Entrepreneurship: Succesfully  Launching  New  Ventures, 4th,  Pearson, Boston. 
  • Bygrave, W. dan Zacharakis, A., 2011, Entrepreneurship, 2nd, Wiley, New York.
  • Mellor, R., dkk., 2009, Entrepreneurship for Everyone : A Student  Textbook,  Sage, London.
  • Suharyadi, Arissetyanto Nugroho, Purwanto, S.K., dan  Maman  Faturohman, 2007, Kewirausahaan :  Membangun Usaha Sukses sejak Usia Dini,  Salemba Empat dan Universitas Mercu Buana, Jakarta.
Nikita Dini
Nikita Dini Blogger, Internet Marketer, Web Designer